Narasita.com- PALU, – Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Sulawesi Tengah, Muhammad Ramadhan Tahir, menghadiri sosialisasi dan peluncuran program” Indonesia Sadar Jamu Aman (IDAMAN)” yang diselenggarakan Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Palu, Selasa (9/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Aula Posintomu Kantor BPOM Palu, Jalan Undata Nomor 3, Kota Palu, itu dirangkaikan dengan Kick Off Program IDAMAN yang digelar BPOM RI secara daring dan diikuti peserta melalui platform Zoom.

Wali Kota Palu yang diwakili Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan turut mengikuti kegiatan secara virtual. Acara tersebut juga dihadiri perwakilan Dinas Kesehatan, akademisi, asosiasi, pelaku usaha obat bahan alam dan jamu, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.

Kepala BPOM Palu, Mardianto, mengatakan Program IDAMAN merupakan upaya BPOM untuk meningkatkan literasi masyarakat mengenai konsumsi jamu yang aman, sekaligus melestarikan warisan jamu Nusantara dan mendukung pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor obat bahan alam.

“Melalui program ini, masyarakat diharapkan semakin cerdas memilih jamu yang aman dengan selalu menerapkan Cek KLIK, yakni memeriksa kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa sebelum membeli atau menggunakannya,” ujar Mardianto saat membuka kegiatan.

Sementara itu, Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, dalam arahannya yang disiarkan dari Semarang, menegaskan bahwa jamu tidak hanya menjadi bagian dari tradisi kesehatan masyarakat Indonesia, tetapi juga telah diakui dunia sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO sejak 6 Desember 2023.

Menurut Taruna, pengakuan tersebut membuka peluang besar bagi Indonesia untuk mengembangkan jamu sebagai produk kesehatan modern yang aman, bermutu, berkhasiat, dan mampu bersaing di pasar global.

“Jamu adalah identitas budaya bangsa sekaligus kekuatan ekonomi rakyat yang harus kita jaga bersama,” kata Taruna.

Ia menjelaskan, Indonesia memiliki kekayaan hayati yang sangat besar dalam bidang obat tradisional. Berdasarkan data Riset Tanaman Obat dan Jamu (Ristoja), terdapat lebih dari 10.000 ramuan tradisional dan hampir 20.000 jenis tanaman obat yang telah terdokumentasi.

Di sektor industri, BPOM mencatat terdapat 141 Industri Obat Bahan Alam (IOBA), 19 Industri Ekstrak Obat Bahan Alam (IEBA), 360 Usaha Mikro Obat Bahan Alam (UMOBA), 744 Usaha Kecil Obat Bahan Alam (UKOBA), serta lebih dari 10.000 perajin jamu tradisional di berbagai daerah di Indonesia.

Tingginya potensi tersebut juga didukung oleh tingkat konsumsi masyarakat. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sekitar 36,9 persen masyarakat Indonesia menggunakan obat tradisional, termasuk jamu.

Meski demikian, Taruna mengingatkan masih adanya tantangan dalam pengawasan produk obat bahan alam. Sepanjang 2025, BPOM menemukan 206 produk dari 11.654 sampel obat bahan alam dan suplemen kesehatan yang positif mengandung Bahan Kimia Obat (BKO).

Selain itu, patroli siber BPOM menemukan lebih dari 39.000 tautan penjualan produk obat bahan alam ilegal atau yang tidak memenuhi ketentuan.

“Temuan ini menunjukkan bahwa perlindungan masyarakat harus terus diperkuat. Jamu yang aman dan berkualitas hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, tenaga kesehatan, pelaku usaha hingga masyarakat,” ujar Taruna.

Program IDAMAN diharapkan menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penggunaan jamu yang aman, sekaligus memperkuat daya saing produk obat bahan alam Indonesia di tingkat nasional maupun global. Rls