Kekhawatiran publik mengenai potensi bahaya radiasi dari baterai kendaraan listrik (EV) seringkali mencuat, terutama seiring dengan semakin masifnya adopsi teknologi ini di berbagai belahan dunia. Namun, sebuah paradoks muncul: sementara radiasi elektromagnetik dari baterai EV terbukti setara dengan perangkat elektronik rumah tangga dan tidak berbahaya, ancaman nyata justru datang dari risiko lain yang jauh lebih mematikan. Tim Editor In Chief NARASITA telah mengumpulkan data dan fakta untuk menjelaskan apa saja bahaya tersembunyi yang harus diwaspadai dari baterai kendaraan listrik.
Meluruskan Mitos Radiasi Baterai EV
Banyak yang salah kaprah mengira baterai kendaraan listrik memancarkan radiasi berbahaya layaknya sinar-X atau sinar gamma. Faktanya, penelitian ilmiah secara konsisten menegaskan bahwa radiasi elektromagnetik yang dihasilkan oleh baterai EV bersifat non-ionizing. Radiasi jenis ini tidak memiliki energi yang cukup untuk merusak DNA sel tubuh manusia, sehingga tidak menimbulkan risiko kanker atau penyakit serius lainnya. Tingkat radiasinya sebanding dengan perangkat elektronik sehari-hari seperti ponsel atau laptop. Jadi, dari sisi radiasi, pengguna EV tidak perlu khawatir berlebihan.
Ancaman Nyata: Thermal Runaway dan Gas Beracun
Jika radiasi bukanlah masalah, lantas apa yang sebenarnya harus dikhawatirkan? Data dan insiden global menunjukkan bahwa risiko terbesar dari baterai lithium-ion pada kendaraan listrik adalah fenomena thermal runaway. Ini adalah reaksi kimia berantai yang tidak terkendali di dalam sel baterai, menyebabkan peningkatan suhu yang ekstrem, bahkan bisa mencapai 1.000–1.200°C. Thermal runaway dapat memicu kebakaran hebat yang sangat sulit dipadamkan dan berpotensi menyala kembali (re-ignition) setelah berhasil dipadamkan.
Selain risiko kebakaran, ada bahaya serius lain yang mengintai: pelepasan gas beracun. Saat baterai lithium-ion terbakar, ia melepaskan gas hidrogen fluorida (HF) yang sangat berbahaya jika terhirup. Gas ini dapat menyebabkan iritasi parah pada saluran pernapasan, mata, dan kulit, bahkan mengancam jiwa pada konsentrasi tinggi. Ancaman ini tidak hanya berlaku bagi penumpang atau pengemudi saat insiden terjadi, tetapi juga bagi petugas pemadam kebakaran dan lingkungan sekitar.
Insiden dan Tantangan Penanganan Darurat
- Kasus Kebakaran: Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) pada tahun 2025 sempat mencatat insiden kebakaran EV di Jakarta akibat korsleting kabel tegangan tinggi. Ini menunjukkan bahwa cacat desain atau kerusakan akibat benturan dapat memicu masalah serius.
- Kesulitan Pemadaman: Api baterai EV memerlukan teknik pemadaman khusus dan volume air yang jauh lebih banyak dibandingkan kebakaran kendaraan konvensional.
- Evakuasi Penumpang: Ketergantungan penuh pintu kendaraan listrik pada daya baterai menjadi perhatian serius. KNKT pada tahun 2026 secara lugas menyatakan, “Ketergantungan penuh pada daya baterai dapat menjadi bumerang saat terjadi kecelakaan, pintu harus bisa dibuka secara mekanis.” Ini menimbulkan risiko penumpang terjebak di dalam kendaraan saat terjadi insiden kebakaran atau kerusakan sistem elektrikal.
Inovasi dan Regulasi untuk Keselamatan Masa Depan
Merespons berbagai risiko ini, industri otomotif dan lembaga regulator bergerak cepat. Produsen EV gencar mengembangkan teknologi baterai yang lebih aman, seperti solid-state battery, yang diklaim lebih stabil, tahan panas, dan mengurangi risiko thermal runaway. Di sisi regulasi, Uni Eropa dan Amerika Serikat sedang merancang standar keselamatan baru yang lebih ketat untuk penanganan kebakaran EV, termasuk protokol untuk petugas darurat dan fitur keamanan wajib pada kendaraan.
Bagi pemilik dan calon pembeli kendaraan listrik, penting untuk selalu mengikuti informasi terkini mengenai standar keselamatan, rutin melakukan pemeriksaan kendaraan, dan memahami prosedur evakuasi darurat. Kesadaran akan risiko nyata di luar mitos radiasi adalah kunci untuk memastikan pengalaman berkendara yang aman dan bertanggung jawab.





