JAKARTA, NARASITA – Bank Indonesia (BI) melaporkan Kinerja Ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 menunjukkan tren positif. Nilai tukar Rupiah terpantau menguat dan stabil didukung aliran modal asing, sementara inflasi tetap terjaga dalam sasaran yang ditetapkan pemerintah.

Bank Indonesia meyakini stabilitas dan penguatan nilai tukar Rupiah akan terus berlanjut. Hal ini didukung oleh komitmen BI melalui berbagai penguatan stabilisasi nilai tukar Rupiah, imbal hasil yang menarik bagi investor, serta prospek pertumbuhan Kinerja Ekonomi Indonesia yang tetap baik.

Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,34% (yoy), sedikit lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang sebesar 3,08% (yoy). Peningkatan ini dipengaruhi oleh inflasi inti yang stabil sebesar 2,76% (yoy) dan inflasi kelompok administered prices sebesar 3,42% (yoy) akibat penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi dan avtur.

Selain itu, inflasi kelompok volatile food tercatat 5,58% (yoy), terutama disumbang oleh komoditas bawang merah, bawang putih, dan beras. Bank Indonesia terus memperkuat respons kebijakan moneter dan bersinergi dengan pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat/Daerah (TPIP/TPID) untuk menjaga inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1% pada 2026 dan 2027.

Bank Indonesia juga terus memperkuat kebijakan untuk menjaga kecukupan likuiditas pasar uang, perbankan, dan perekonomian. Hingga 21 Juli 2026, BI telah membeli Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp188,68 triliun, termasuk pembelian di pasar sekunder sebesar Rp76,62 triliun, yang membantu menjaga uang primer (M0) tumbuh 14,1% (yoy) pada Juni 2026.

Kebijakan makroprudensial longgar terus diterapkan melalui optimalisasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendorong peningkatan kredit/pembiayaan perbankan ke sektor prioritas. Hingga minggu pertama Juli 2026, insentif KLM yang diterima bank tercatat sebesar Rp431,9 triliun, dialokasikan pada lending channel dan interest rate channel untuk mendukung sektor-sektor strategis dan UMKM.

Peran kredit perbankan dalam mendukung pertumbuhan Kinerja Ekonomi Indonesia terus meningkat, dengan pertumbuhan kredit pada Juni 2026 mencapai 12,67% (yoy). Angka ini lebih tinggi dari Mei 2026 yang sebesar 11,51% (yoy), didukung oleh kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi.

Ketahanan perbankan nasional tetap kuat dalam memitigasi ketidakpastian global, ditandai dengan Rasio Kecukupan Modal (CAR) perbankan yang tinggi sebesar 23,74% pada Mei 2026. Rasio kredit bermasalah (NPL) juga terjaga rendah, yaitu 2,17% (bruto) dan 0,84% (neto), menunjukkan kemampuan sistem keuangan yang kokoh.

Transaksi ekonomi dan keuangan digital pada triwulan II 2026 tetap tumbuh kuat, didukung sistem pembayaran yang aman dan andal. Volume transaksi pembayaran digital mencapai 16,07 miliar transaksi atau tumbuh 36,88% (yoy), dengan transaksi QRIS tumbuh sangat tinggi mencapai 100,12% (yoy), menandakan semakin meluasnya adopsi digital yang berkontribusi pada Kinerja Ekonomi Indonesia.

Stabilitas sistem pembayaran juga tetap terjaga, ditopang oleh infrastruktur yang stabil dan struktur industri yang sehat. Bank Indonesia akan terus memperkuat struktur industri sistem pembayaran dan memastikan ketersediaan uang Rupiah yang cukup serta layak edar di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Bank Indonesia akan terus memperkuat kebijakan makroprudensial dan sinergi kebijakan bersama KSSK dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan,” kata Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, pada 22/07/2026.