[JAKARTA], NARASITA – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan stabilitas sistem keuangan nasional 2026 tetap terjaga didukung pertumbuhan ekonomi 5,61% pada triwulan I dan koordinasi antarotoritas. Hal ini disampaikan dalam Rapat Berkala KSSK II Tahun 2026 yang diikuti Menteri Keuangan, BI, OJK, dan LPS.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I 2026 mencapai 5,61% yoy, lebih tinggi dari triwulan IV 2025 sebesar 5,39% yoy. Angka ini mendekati target pemerintah sepanjang 2026 pada kisaran 5,6%–6%.
“Hasil assessment KSSK menunjukkan bahwa kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan selama triwulan II/2026 tetap terjaga di tengah konflik geopolitik yang kembali meningkat,” kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan sekaligus Ketua KSSK.
Kredit perbankan tumbuh 12,67% yoy pada Juni 2026 mencapai Rp9.080,9 triliun. Sementara nilai tukar rupiah sempat menguat ke level Rp17.997 per dolar AS pasca rilis data inflasi Juli 2026.
“Simpanan masyarakat tetap aman, dan LPS terus memastikan kepercayaan publik terhadap sistem perbankan,” tegas Anggito Abimanyu, Ketua Dewan Komisioner LPS.
Bank Indonesia memfokuskan diri menjaga stabilitas nilai tukar dan mengantisipasi volatilitas pasar keuangan global. Sedangkan OJK mencatat kredit perbankan tumbuh positif dengan kualitas aset tetap terjaga.
KSSK terus memantau risiko eksternal termasuk eskalasi konflik Timur Tengah, kenaikan harga energi, dan volatilitas pasar global melalui asesmen forward looking dan mitigasi kebijakan terkoordinasi.





