JAKARTA, NARASITA – Fenomena perempuan mengurus semuanya masih sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkup rumah tangga maupun profesional. Beban mental dan fisik yang harus ditanggung ini kerap kali memicu stres dan kelelahan. Kondisi ini membuat para perempuan merasa bahwa segala urusan, besar maupun kecil, menjadi tanggung jawab mereka sepenuhnya.

Pandangan masyarakat dan konstruksi sosial seringkali menempatkan perempuan dalam peran ganda, menuntut mereka untuk menjadi sempurna di berbagai aspek kehidupan. Hal ini termasuk mengurus rumah, anak, karier, hingga hubungan sosial. Imbasnya, perempuan merasa terbebani dan kesulitan untuk mendedikasikan waktu bagi diri sendiri.

Menurut hasil penelitian dari The Pew Research Center yang dipublikasikan pada 10/11/2023, perempuan dua kali lebih mungkin dibandingkan laki-laki untuk mengatakan mereka melakukan lebih banyak tugas rumah tangga dibandingkan pasangan mereka. Angka ini menunjukkan ketidakseimbangan signifikan dalam pembagian kerja domestik.

Untuk mengurangi beban merasa perempuan mengurus semuanya, penting untuk menerapkan strategi yang efektif. Salah satunya adalah dengan membangun komunikasi yang terbuka dan jujur dengan pasangan atau anggota keluarga. Pembagian tugas yang adil dapat meringankan beban dan menumbuhkan rasa kebersamaan.

Selain itu, penting juga bagi perempuan untuk belajar mendelegasikan tugas dan mengatakan ‘tidak’ jika memang sudah merasa tidak sanggup. Ini adalah langkah krusial untuk menjaga kesehatan mental dan fisik. Tidak semua hal harus dilakukan sendiri; meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan.

“Perempuan seringkali merasa perlu untuk menjadi pahlawan super dalam setiap aspek kehidupan mereka. Padahal, penting untuk menyadari bahwa kemampuan kita terbatas dan meminta bantuan adalah bentuk kekuatan,” kata Dr. Sarah Johnson, seorang psikolog keluarga dari American Psychological Association. Dr. Johnson menekankan pentingnya menetapkan batasan dan tidak takut untuk melepaskan kontrol atas beberapa hal.

Menciptakan waktu untuk diri sendiri atau ‘me time’ juga tidak kalah penting. Melakukan hobi, berolahraga, atau sekadar beristirahat dapat membantu perempuan mengisi ulang energi dan mengurangi stres. Dengan begitu, tekanan akibat perasaan perempuan mengurus semuanya dapat diminimalisir.

Edukasi tentang kesetaraan gender juga berperan penting. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang peran dan tanggung jawab yang setara antara laki-laki dan perempuan, diharapkan beban yang selama ini cenderung dipikul oleh satu pihak dapat terbagi rata. Ini adalah langkah menuju masyarakat yang lebih seimbang.