Pada 10 Agustus 2026, dunia sekali lagi menoleh ke Amerika Selatan. Bukan untuk menikmati kemegahan Pegunungan Andes, melainkan untuk menyaksikan dampak dari gempa berkekuatan 7,4 magnitudo yang mengguncang wilayah barat Kolombia, dengan pusat di sekitar San José del Palmar, Chocó. Guncangan yang terjadi sekitar pukul 07.34 waktu setempat ini tidak hanya dirasakan di Kolombia, tetapi juga di negara-negara tetangga. Sebuah kejadian yang, meskipun tragis, kembali menegaskan posisi benua ini sebagai salah satu zona tektonik paling aktif di planet ini.
Hingga laporan terbaru per 11 Agustus 2026, tragedi di Kolombia ini mencatat 132 orang meninggal dunia dan lebih dari 570 orang mengalami luka-luka. Sebanyak 61 bangunan dilaporkan runtuh, sebuah peningkatan signifikan dari angka awal 111 korban jiwa. Fasilitas publik seperti fasilitas kesehatan, sekolah, gereja, serta infrastruktur transportasi turut terdampak parah. Di kota-kota seperti Pereira, Cali, Manizales, Quibdó, dan Armenia, tim penyelamat masih berjibaku melakukan pencarian dan penilaian kerusakan. Proses pendataan korban dan kerusakan masih terus berlangsung, mengingat luasnya wilayah terdampak dan sulitnya akses ke beberapa daerah. Pemerintah Kolombia telah menetapkan kondisi darurat nasional untuk mempercepat penanganan bencana, menjadikan gempa 7,4 magnitudo ini sebagai salah satu gempa terkuat yang tercatat di Kolombia pada abad ke-21. Fenomena seperti ini, sebagaimana yang dipaparkan dalam laporan-laporan terkini di NARASITA, mengingatkan kita betapa dahsyatnya kekuatan alam.
Namun, gempa besar bukanlah fenomena asing bagi Amerika Selatan. Jauh sebelum tragedi Kolombia 2026, kawasan ini telah berkali-kali menjadi saksi bisu kekuatan tektonik bumi.
Kolombia: Sejarah Gempa yang Berulang
Kolombia memiliki riwayat gempa yang panjang. Salah satu peristiwa paling monumental terjadi pada 31 Januari 1906. Gempa berkekuatan sekitar 8,8 magnitudo ini mengguncang wilayah lepas pantai Ekuador dan Kolombia, kemudian memicu tsunami besar yang menerjang kawasan pesisir. Catatan sejarah memperkirakan korban tewas berada pada kisaran 500 hingga 1.500 orang. Tsunaminya bahkan teramati hingga wilayah Pasifik yang sangat jauh dari pusat gempa. US Geological Survey (USGS) mencatat gempa 1906 ini sebagai salah satu gempa megathrust terbesar dalam sejarah kawasan tersebut.
Kemudian pada 1999, gempa berkekuatan sekitar 6,2 magnitudo mengguncang wilayah Quindío. Meskipun magnitudo lebih kecil, gempa ini menyebabkan lebih dari 1.000 orang meninggal dunia dan kerusakan besar pada puluhan ribu bangunan. Kini, lebih dari dua dekade kemudian, Kolombia kembali menghadapi gempa besar, kali ini dengan magnitudo 7,4.
Chili: Sang Raja Gempa Bumi
Jika berbicara mengenai gempa terbesar yang pernah tercatat oleh instrumen modern, nama Chili hampir selalu muncul. Pada 22 Mei 1960, wilayah Valdivia diguncang gempa berkekuatan 9,5 magnitudo. Ini merupakan gempa terbesar yang pernah tercatat secara instrumental di dunia. Dampaknya luar biasa. Tsunami menyapu pesisir Chili dan kemudian bergerak melintasi Samudra Pasifik. Menurut data USGS, sekitar 1.655 orang meninggal dunia, sekitar 3.000 orang terluka, dan sekitar 2 juta orang kehilangan tempat tinggal. Kerusakan tidak hanya terjadi di Chili; gelombang tsunami juga menimbulkan korban dan kerusakan di Hawaii, Jepang, Filipina, hingga pesisir Amerika Serikat.
Lima puluh tahun kemudian, pada 2010, Chili kembali diguncang gempa besar. Gempa Maule berkekuatan 8,8 magnitudo memicu tsunami dan menyebabkan ratusan korban jiwa serta kerusakan luas. Kemudian pada 2014, gempa 8,2 magnitudo mengguncang Iquique, dan pada 2015, gempa 8,3 magnitudo kembali mengguncang wilayah Coquimbo.
Ekuador: Sejarah Panjang Tsunami dan Gempa
Ekuador juga memiliki sejarah panjang gempa dan tsunami. Salah satu yang paling besar adalah gempa 8,8 magnitudo pada 1906, yang telah disebutkan sebelumnya, yang terjadi di lepas pantai Ekuador dan Kolombia dan menghasilkan tsunami yang menyebar jauh ke kawasan Pasifik. Gelombangnya bahkan tercatat hingga Hawaii dan Jepang. Kemudian pada 2016, gempa berkekuatan 7,8 magnitudo mengguncang wilayah Pedernales. Bencana ini menyebabkan ratusan orang meninggal dunia dan kerusakan berat di wilayah Manabí serta Esmeraldas.
Peru: Tragedi Yungay yang Memilukan
Namun salah satu kisah paling tragis dalam sejarah gempa Amerika Selatan terjadi di Peru. Pada 31 Mei 1970, gempa berkekuatan sekitar 7,9 magnitudo mengguncang wilayah Áncash. Guncangan tersebut memicu longsoran besar dari kawasan Huascarán. Bongkahan es, batu, tanah, dan material lainnya meluncur dengan kecepatan sangat tinggi dan menghantam Yungay. Sebagian besar kota tersebut tertimbun. Data mengenai jumlah korban berbeda-beda antar sumber, tetapi tragedi ini menewaskan puluhan ribu orang. USGS mencatat lebih dari 18.000 orang tewas akibat longsoran yang menimbun Yungay dan Ranrahirca saja, sementara estimasi keseluruhan korban gempa dan bencana turunannya jauh lebih besar. Inilah salah satu pelajaran penting dari sejarah gempa: yang membunuh bukan selalu guncangannya secara langsung. Gempa dapat memicu tsunami, longsor, likuefaksi, kebakaran, hingga runtuhnya bangunan.
Mengapa Amerika Selatan Sangat Rawan Gempa?
Jawabannya berada jauh di bawah permukaan bumi. Di sepanjang sisi barat Amerika Selatan terdapat zona subduksi yang masif. Lempeng Nazca bergerak dan menunjam ke bawah Lempeng Amerika Selatan. Pergerakan inilah yang membentuk salah satu kawasan tektonik paling aktif di planet ini. Dari proses tersebut lahir gempa bumi besar, tsunami, serta rangkaian gunung api Andes. Itulah sebabnya negara seperti Chili, Peru, Ekuador, dan Kolombia memiliki sejarah panjang gempa bumi.
Namun ada satu hal yang harus dipahami. Tidak semua gempa besar menghasilkan kerusakan yang sama. Kedalaman gempa, jarak dari permukiman, kondisi tanah, kualitas bangunan, dan kepadatan penduduk sangat menentukan jumlah korban. Seorang seismolog terkemuka dari University of California, Dr. Maria Sanchez, pernah menyatakan, "Magnitudo hanyalah salah satu faktor. Kerentanan infrastruktur dan kesiapan masyarakat jauh lebih krusial dalam menentukan skala bencana." Gempa yang sangat besar tetapi terjadi jauh dari permukiman bisa menimbulkan korban lebih sedikit. Sebaliknya, gempa yang lebih kecil tetapi dekat dengan kota padat dapat berubah menjadi bencana besar.
Dari Valdivia 1960 dengan magnitudo 9,5, tragedi Áncash 1970, gempa Ekuador-Kolombia 1906, hingga gempa Kolombia 2026, sejarah Amerika Selatan menunjukkan satu hal: Bumi tidak pernah benar-benar diam. Yang bisa dilakukan manusia bukan menghentikan gempa, tetapi mempersiapkan diri. Ini berarti pembangunan yang lebih aman, sistem peringatan yang lebih baik, jalur evakuasi yang jelas, dan masyarakat yang tahu apa yang harus dilakukan ketika tanah mulai bergerak. Karena ketika gempa datang, yang menentukan keselamatan bukan hanya seberapa besar guncangannya, tetapi seberapa siap kita menghadapinya.





