JAKARTA, NARASITA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menempatkan penguatan integritas pasar modal sebagai prioritas utama dalam mempercepat transformasi Pasar Modal Indonesia. Upaya ini diarahkan untuk menciptakan pasar yang efisien, transparan, terpercaya, inovatif, serta mendukung pembiayaan pembangunan nasional. Melalui reformasi ini, OJK perkuat integritas pasar modal secara menyeluruh.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengungkapkan bahwa penguatan integritas dilakukan melalui peningkatan likuiditas, transparansi, tata kelola, penegakan aturan, serta sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan.
“OJK berkomitmen untuk terus meningkatkan likuiditas, transparansi, tata kelola dan enforcement serta sinergitas sebagai bagian dari rencana aksi reformasi integritas di Pasar Modal Indonesia,” kata Friderica dalam peringatan 49 tahun diaktifkannya kembali Pasar Modal Indonesia di Jakarta, 12/08.
Ia menambahkan, OJK juga terus memperkuat kapasitas kelembagaan dan sistem pengawasan untuk menjaga kredibilitas pasar modal. Peringatan 49 tahun Pasar Modal Indonesia ini mengusung tema “Akselerasi Transformasi untuk Berdaulat, Mandiri, dan Maju Bersama”.
Acara tersebut dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung, jajaran Anggota Dewan Komisioner OJK, serta sejumlah pemangku kepentingan pasar modal lainnya. Ini menunjukkan dukungan lintas sektoral terhadap upaya OJK perkuat integritas pasar modal.
Investor Pasar Modal Tembus 30,27 Juta
Friderica menjelaskan, reformasi integritas yang dilakukan OJK telah membawa perubahan signifikan terhadap pasar modal Indonesia. Hal ini terlihat dari peningkatan jumlah investor yang terus tumbuh.
Hingga saat ini, jumlah Single Investor Identification (SID) telah mencapai 30,27 juta, atau tumbuh 48,67 persen secara tahunan. Pencapaian ini menunjukkan keberhasilan OJK perkuat integritas pasar modal yang berdampak pada kepercayaan publik.
“Tentu angka ini mencerminkan tidak hanya sekadar angka, tidak hanya sekadar pertumbuhan jumlah investor, tetapi makna di balik itu bahwa ada trust, ada confidence, ada harapan masyarakat Indonesia terhadap Pasar Modal Indonesia,” ujarnya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa peringatan 49 tahun pasar modal menjadi momentum penting untuk menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan nasional maupun internasional. Ini adalah bukti bahwa OJK perkuat integritas pasar modal yang memberikan dampak positif.
Menurut Airlangga, pasar modal merupakan salah satu indikator penting bagi investor dalam melihat kondisi perekonomian Indonesia, terutama pada momentum strategis.
“Saya apresiasi juga reformasi yang telah dilakukan dan berharap sektor keuangan makin kredibel, inovatif dan berdaya saing,” kata Airlangga.
Pemerintah Dukung Reformasi Pasar Modal
Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, turut mengapresiasi reformasi integritas pasar modal yang dilakukan OJK bersama Self-Regulatory Organization (SRO). Ia berharap pasar modal dapat menjadi katalis bagi pertumbuhan ekonomi nasional melalui pasar yang lebih dalam, likuid, terpercaya, dan kredibel. Dukungan pemerintah ini esensial bagi OJK perkuat integritas pasar modal.
“Pemerintah menyambut baik agenda reformasi yang tengah dijalankan oleh OJK dan BEI. Mulai dari penguatan likuiditas, peningkatan transparansi, penguatan tata kelola hingga pendalaman pasar,” katanya.
Menurutnya, penguatan tersebut penting agar pasar modal dapat menjalankan peran yang lebih optimal dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional.
OJK Luncurkan ETF Emas
Dalam rangkaian peringatan 49 tahun diaktifkannya kembali Pasar Modal Indonesia, OJK juga meluncurkan Exchange Traded Fund (ETF) Emas. Peluncuran ini menjadi bagian dari upaya OJK perkuat integritas pasar modal dan diversifikasi produk investasi.
Friderica mengatakan, ETF Emas merupakan salah satu quick win dari delapan rencana aksi OJK dalam upaya melakukan pendalaman pasar secara terintegrasi. Produk tersebut diharapkan dapat memperkuat struktur pasar modal sekaligus memberikan alternatif investasi baru bagi masyarakat.
“ETF Emas menawarkan investasi yang praktis, likuid, sesuai prinsip syariah, berfungsi sebagai safe haven, sekaligus memperluas Pasar Bullion melalui kolaborasi antarlembaga dan pelaku industri,” jelas Friderica.
Airlangga berharap kehadiran ETF Emas tidak hanya menambah pilihan investasi bagi masyarakat, tetapi juga meningkatkan likuiditas pasar. Juda juga menyambut baik peluncuran ETF Emas, yang menurutnya berpotensi memperluas basis investor, menambah keragaman instrumen investasi, meningkatkan likuiditas, dan memperkuat tata kelola pasar modal.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menambahkan bahwa ETF Emas dapat mendukung stabilitas pasar modal melalui diversifikasi instrumen dan pilihan investasi bagi investor.
Penghimpunan Dana Capai Rp123,21 Triliun
OJK mencatat kinerja pasar modal Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan positif. Hingga 07 Agustus, penghimpunan dana telah mencapai Rp123,21 triliun melalui 135 aksi korporasi.
Jumlah perusahaan yang tercatat di pasar modal juga telah melampaui 962 emiten. Di sisi investor, jumlah SID mencapai 30,27 juta dengan tambahan sekitar 9,8 juta investor baru. Sebanyak 78 persen investor berusia di bawah 40 tahun. Ini merupakan indikator keberhasilan OJK perkuat integritas pasar modal.
Sementara itu, Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana tercatat sebesar Rp667 triliun, sedangkan Asset Under Management (AUM) mencapai Rp1.026 triliun per 07 Agustus.
“Capaian ini menunjukkan bahwa Pasar Modal Indonesia terus tumbuh, baik dari sisi kemampuan menghimpun dana bagi dunia usaha maupun dari sisi perluasan basis investor,” kata Hasan. Peningkatan dana kelolaan juga menunjukkan semakin berkembangnya pilihan dan kebutuhan investasi masyarakat.
Transaksi Karbon Capai 1,98 Juta Ton CO2 Ekuivalen
Pertumbuhan juga tercatat dalam perdagangan karbon. Sejak perdagangan karbon dimulai pada 26 September 2023 hingga 07 Agustus 2026, volume transaksi akumulatif mencapai 1,98 juta ton CO2 ekuivalen dengan nilai Rp93,89 miliar. Ini menambah daftar keberhasilan OJK perkuat integritas pasar modal.
Sebanyak 158 perusahaan telah berpartisipasi dalam perdagangan karbon dengan ketersediaan unit karbon mencapai 3,14 juta ton CO2 ekuivalen. Di tingkat internasional, Indonesia juga kembali dipertahankan dalam klasifikasi Emerging Market dalam MSCI Market Classification Review pada Juni. OJK menilai keputusan tersebut menjadi salah satu pengakuan terhadap berbagai upaya perbaikan yang dilakukan bersama SRO dan pemangku kepentingan pasar modal.
OJK Dorong Peningkatan Integritas Pasar
Untuk OJK perkuat integritas pasar, OJK bersama SRO dan pemangku kepentingan lainnya mempercepat sejumlah inisiatif strategis. Beberapa di antaranya adalah peningkatan persyaratan minimum free float menjadi 15 persen, penyusunan kerangka pengaturan High Shareholder Concentration (HSC), serta peningkatan transparansi kepemilikan saham.
Langkah tersebut menjadi bagian dari implementasi Roadmap Pengembangan Pasar Modal Indonesia (PMDK) 2022-2027. Dalam roadmap tersebut, OJK menetapkan empat area utama pengembangan pasar modal:
Pertama, pendalaman pasar melalui optimalisasi sisi suplai, permintaan, dan infrastruktur. Kedua, peningkatan integritas pasar melalui penerapan sanksi yang efektif serta peningkatan kualitas emiten. Ketiga, penguatan kelembagaan Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK), termasuk melalui demutualisasi bursa, peningkatan kualitas Securities Crowdfunding (SCF), dan penguatan keamanan siber. Keempat, pengembangan keuangan berkelanjutan melalui peningkatan pengguna jasa Bursa Karbon dan inovasi produk investasi yang ramah lingkungan.
OJK menilai berbagai agenda tersebut menjadi fondasi untuk membangun pasar modal Indonesia yang semakin dalam, berintegritas, kompetitif, dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan. Upaya OJK perkuat integritas pasar modal ini diharapkan membawa dampak positif jangka panjang bagi ekonomi Indonesia.





