[Morowali], NARASITA – Penerjemah di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menjadi kunci komunikasi antara tenaga kerja asing (TKA) asal Tiongkok dan tenaga kerja Indonesia (TKI). Peran mereka tak sekadar mengalihbahasakan, tapi juga memastikan transfer pengetahuan dan keselamatan kerja berjalan lancar.

Kebutuhan penerjemah di IMIP muncul sejak 2014 seiring berkembangnya industri pengolahan nikel. Kini, standar kompetensi penerjemah semakin ketat, termasuk penguasaan teknis dan bahasa Mandarin setara HSK level 4-5.

“Standar HSK 4 dan 5 dipilih mengacu ketetapan Tiongkok. Penerjemah harus paham konteks pekerjaan dan menyampaikan informasi secara akurat,” kata Fanny Viviansi, Wakil Manajer Departemen General Affairs PT Eternal Tsingshan Indonesia.

Fanny menjelaskan, penerjemah di IMIP harus menguasai tiga aspek: perbedaan budaya, keselamatan kerja, dan penyampaian pesan tepat. “Orang Tiongkok cenderung langsung, sementara orang Indonesia lebih memperhatikan perasaan,” ujarnya.

PT Eternal Tsingshan Indonesia rutin mengevaluasi kemampuan penerjemah setiap tiga bulan. Perusahaan juga membuka kelas bahasa Mandarin sejak 2022, dengan 1.800 peserta dan 430 lulusan HSK 4 yang dikirim ke Wenzhou University.

“Program ini bertujuan meningkatkan keterampilan teknis dan bahasa karyawan Indonesia,” kata Fanny. Ke depan, lebih banyak TKI diharapkan bisa menempati posisi strategis dengan kemampuan bilingual.

Pengembangan SDM bilingual menjadi strategi jangka panjang IMIP untuk menciptakan lingkungan kerja produktif dan kolaboratif. Beberapa posisi bahkan mewajibkan penguasaan tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Mandarin.