CHIBA, NARASITA – Prefektur Chiba, Jepang, dilanda banjir Chiba Jepang parah pada 13–14 Agustus 2026 setelah rekor curah hujan mengguyur wilayah tersebut. Bencana ini menyebabkan delapan orang tewas, empat luka-luka, dan satu orang masih dinyatakan hilang. Lebih dari 400.000 penduduk diminta mengungsi, dan ribuan rumah terendam.
Hujan deras dimulai pada Kamis sore, 13 Agustus, dengan puncak hujan terjadi hingga dini hari 14 Agustus. Kota Chiba mencatat curah hujan 348 mm dalam 12 jam, jumlah ini hampir tiga kali lipat rata-rata curah hujan bulanan untuk Agustus. Intensitas hujan mencapai 148 mm dalam tiga jam di Kota Chiba dan 150 mm di Sakura.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) mengeluarkan peringatan Level 5 (peringatan darurat tertinggi) untuk 14 munisipalitas di Chiba, sebuah langkah yang pertama kali dilakukan untuk wilayah tersebut. Peringatan ini kemudian diturunkan ke Level 4 pada Jumat pagi, namun risiko longsor tetap tinggi.
Dampak banjir Chiba Jepang meluas pada infrastruktur. Sebanyak 45 rumah terendam banjir dengan air di atas lantai, dan 39 rumah terendam di bawah lantai, sementara satu rumah hancur sebagian. Lebih dari 26.000 rumah tangga kehilangan pasokan listrik. Transportasi lumpuh, dengan 7.000 penumpang terjebak semalaman di Bandara Narita, serta jalur kereta dan jalan raya yang terputus.
Bencana ini terjadi bertepatan dengan minggu liburan Bon, salah satu periode tersibuk di Jepang, yang memperburuk gangguan transportasi dan potensi kerugian ekonomi. Meskipun Topan Nangka bergerak menjauh, sistem tekanan rendah dan kondisi atmosfer yang tidak stabil menjadi pemicu utama banjir Chiba Jepang ini.
Pemerintah daerah telah membuka ratusan tempat penampungan darurat untuk menampung warga yang dievakuasi. Tim penyelamat terus berupaya mencari korban hilang dan membantu warga terdampak. Kondisi atmosfer tidak stabil diperkirakan berlanjut hingga Sabtu dini hari, dengan kewaspadaan tetap tinggi terhadap potensi bencana susulan.





