JAKARTA, NARASITA – Jurnalis sepak bola kenamaan Fabrizio Romano dikritik keras oleh sejumlah staf klub Eropa. Laporan investigasi Daily Mail Sport, Agustus 2026, mengungkap bahwa Romano dianggap terlalu dini mengumumkan kabar transfer pemain, yang dinilai mengganggu proses negosiasi yang masih sensitif.

Kritik terhadap Fabrizio Romano ini muncul karena gaya pemberitaannya yang kerap menggunakan frasa ‘Here We Go’. Hal ini memicu ketidakpuasan di kalangan klub, yang merasa informasi bocor terlalu cepat dan berpotensi merusak dinamika negosiasi.

Beberapa staf klub bahkan menolak untuk mengangkat telepon dari Romano, menunjukkan tingkat frustrasi yang tinggi. Mereka berpendapat bahwa pemberitaan dini dapat memengaruhi harga pemain, posisi tawar klub, dan bahkan peluang keberhasilan transfer itu sendiri.

Romano, yang berusia 31 tahun, dikabarkan lebih sering mengandalkan satu sumber informasi, baik dari agen maupun satu pihak klub. Pendekatan ini dinilai kurang melakukan verifikasi silang yang memadai, sehingga informasi yang disampaikan terkadang belum final atau masih dalam tahap negosiasi awal.

Akibatnya, reputasi Fabrizio Romano sebagai jurnalis investigatif mulai dipertanyakan. Sebagian pihak menganggapnya lebih mirip sebagai seorang influencer yang mengejar sensasi dan kecepatan informasi, alih-alih seorang jurnalis yang berpegang pada prinsip kehati-hatian dan verifikasi mendalam.

“Sebagian orang di dunia sepak bola kini memandangnya lebih sebagai influencer yang mengganggu daripada sebagai seorang jurnalis,” kutip Daily Mail Sport dalam laporannya.

Situasi ini menimbulkan perdebatan tentang etika jurnalisme olahraga, khususnya dalam konteks bursa transfer yang penuh tekanan. Kecepatan informasi versus akurasi dan dampak pemberitaan menjadi sorotan utama dalam kasus Fabrizio Romano ini.