JAKARTA, NARASITA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 2119 Gempa Susulan Flores telah terjadi hingga 18/08 pukul 05.00 WIB, pasca gempa utama berkekuatan Magnitudo (M) 7,7 yang melanda Flores pada Sabtu, 15/08 lalu. Ribuan Gempa Susulan Flores ini memiliki magnitudo berkisar antara M1,3 hingga M6,2.
Dari total 2119 Gempa Susulan Flores, sebanyak 24 kejadian di antaranya bermagnitudo lebih dari M5. Sementara itu, 70 kejadian Gempa Susulan Flores lainnya dilaporkan dirasakan oleh masyarakat di wilayah terdampak.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa gempa bumi pertama kali terjadi di wilayah Flores pada Sabtu, 15/08 pukul 04.58 WIB dengan parameter update M7,7. Gempa ini menyebabkan tsunami di wilayah sekitarnya. Gempa Susulan Flores dan gempa utama ini merupakan jenis dangkal yang disebabkan oleh aktivitas tektonik di Flores Back-Arc dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).
“Berdasarkan data sementara gempa susulan ini akan berakhir 3 – 4 minggu ke depan,” kata Wijayanto di Jakarta, Selasa (18/08).
Lebih lanjut, pada saat gempa bumi M7,7 Sabtu lalu, BMKG telah mengirimkan Peringatan Dini 1 hanya dalam 2 menit 16 detik setelah gempa, dengan status ancaman SIAGA (0.5 – 3 meter) dan Waspada (<0.5 meter). Peringatan Dini Tsunami kemudian dinyatakan berakhir pada pukul 07.30 WIB atau 2 jam 31 menit 37 detik setelah gempa bumi.
Beberapa wilayah terdampak yang berstatus Siaga meliputi Manggarai Bagian Utara, Ngada Bagian Utara, Ende, Flores Timur, dan Jeneponto. Sementara itu, wilayah Flores Timur, Bima, Dompu, dan Wajo berstatus Waspada.
Hasil observasi stasiun pasang surut menunjukkan gempa bumi ini telah memicu terjadinya tsunami di 16 lokasi pada 4 provinsi, yaitu NTT, NTB, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Ketinggian tsunami paling tinggi tercatat di Pota, Manggarai Timur, NTT pada pukul 05.03 WIB (1.605 m), dan terendah di Bakalang, Alor, NTT pada pukul 05.41 WIB (0.14 m).
Berdasarkan hasil sementara pemantauan dan informasi lapangan, gempa bumi Flores M7,7 menyebabkan 53 korban jiwa meninggal dunia dan 137 korban luka-luka. Dampak kerusakan terjadi di sejumlah wilayah, terutama Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, hingga Sikka, Maumere, dengan tingkat kerusakan yang bervariasi dari ringan hingga berat.
“BMKG telah menerjunkan tim gabungan dari pusat dan UPT untuk melakukan survei gempabumi merusak, meliputi survei makroseismik, pengukuran mikrotremor dan MASW untuk mengetahui karakteristik serta respons tanah terhadap guncangan, monitoring gempa susulan, dan verifikasi dampak tsunami di lapangan,” papar Wijayanto.
Survei ini bertujuan mendukung proses pemulihan dan rekonstruksi pascabencana sekaligus menjadi dasar pemetaan mikrozonasi pascagempa, evaluasi kondisi wilayah terdampak, serta penyusunan rekomendasi mitigasi dan rekonstruksi yang lebih aman. Wilayah prioritas berfokus pada daerah dengan kerusakan sedang hingga berat serta dibandingkan dengan lokasi yang relatif tidak mengalami kerusakan.
Lebih lanjut, BMKG melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terdampak untuk memberikan pemahaman yang tepat serta membantu menenangkan masyarakat dalam menghadapi kondisi pascagempa. Masyarakat juga diimbau agar menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi, serta mewaspadai Gempa Susulan Flores yang masih terjadi.






