FROSINONE, NARASITAJuventus mengawali musim Serie A 2026/27 dengan kemenangan tipis, namun diselimuti kekhawatiran akibat Juventus boros peluang. Pada laga perdana melawan Frosinone, Si Nyonya Tua hanya mampu mencetak satu gol padahal memiliki banyak kesempatan emas, terutama di babak pertama. Gol tunggal penyelamat dicetak oleh bek tangguh Gleison Bremer.

Sorotan utama tertuju pada lini depan Juventus yang tampil kurang efektif. Penyerang Randal Kolo Muani melewatkan peluang mencolok yang seharusnya bisa berbuah gol. Kegagalan Kolo Muani ini mengingatkan publik pada performa Jonathan David musim lalu yang kerap menyia-nyiakan kesempatan serupa.

Tidak hanya Kolo Muani, Kenan Yıldız juga tampil di bawah standar. Pemain muda ini gagal memberikan dampak signifikan sepanjang babak pertama dan akhirnya diganti di paruh kedua pertandingan. Performa lini depan yang tumpul ini membuat Juventus boros peluang, meskipun dominan dalam penguasaan bola dan kreasi serangan.

Menurut pengamat sepak bola Giovanni Guardala, Juventus sejatinya bisa mencetak empat hingga lima gol di babak pertama jika saja para penyerang mereka lebih klinis dalam penyelesaian akhir. Namun, Juventus boros peluang dan hanya mengandalkan gol dari Gleison Bremer.

Gol Bremer di pertandingan ini menjadi krusial. Bek asal Brasil itu tidak hanya menjalankan tugasnya dengan baik di lini pertahanan bersama Vicario untuk menjaga clean sheet, tetapi juga menjadi pahlawan dengan gol tunggalnya yang memastikan tiga poin bagi Juventus. Kemenangan ini memang penting, tetapi masalah Juventus boros peluang harus segera diperbaiki oleh pelatih.

Dampak dari pertandingan ini cukup signifikan. Bagi Juventus, kemenangan adalah modal berharga, namun lini serang memerlukan evaluasi mendalam. Tekanan kian meningkat bagi Kolo Muani setelah gagal memanfaatkan peluang emas, sementara Kenan Yıldız perlu meningkatkan efektivitas permainannya. Para penggemar Juventus tentu merasa lega dengan raihan poin penuh, namun sekaligus gelisah melihat produktivitas lini depan yang masih jauh dari harapan.

“Juventus sebenarnya bisa mengakhiri pertandingan dengan mencetak 4–5 gol di babak pertama,” kata Giovanni Guardala, menyoroti inefisiensi serangan Si Nyonya Tua.