NASIONAL, NARASITA – Peneliti bahasa menyoroti hilangnya sekitar 100 kosakata indah dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang kini jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Fenomena ini menjadi nyata sejak era digital dan globalisasi bahasa pada periode 2010-2026, terutama di kalangan generasi muda Indonesia.

Pergeseran bahasa akibat pengaruh bahasa asing, bahasa gaul, serta minimnya penggunaan kosakata klasik menjadi penyebab utama mengapa 100 kata hilang dari KBBI ini. Kata-kata tersebut, meskipun masih tercatat di KBBI, tidak lagi aktif dipakai dalam komunikasi harian dan hanya muncul dalam teks sastra atau akademik.

Survei linguistik terbaru pada tahun 2025 menunjukkan bahwa kosakata klasik seperti arunika (cahaya pagi) dan candradimuka (kawah ujian berat) hampir tidak dikenal oleh generasi Z. Padahal, KBBI V yang akan terbit pada tahun 2026 memuat lebih dari 200.000 entri kata, namun sekitar 5-10% di antaranya termasuk dalam kategori yang jarang digunakan atau bahkan dianggap sebagai 100 kata hilang dari KBBI ini.

Data survei bahasa tahun 2026 juga mengungkapkan bahwa 72% responden muda lebih memilih menggunakan bahasa gaul atau serapan asing dibandingkan kosakata asli bahasa Indonesia. Kondisi ini mengancam kekayaan ekspresi bahasa dan warisan budaya yang terkandung dalam kosakata-kosakata tersebut.

Pentingnya kosakata langka ini tidak hanya terbatas pada keindahan bahasa, tetapi juga berfungsi menjaga warisan budaya dan memperkaya ekspresi sastra. Jika tidak ada upaya pelestarian, dikhawatirkan 100 kata hilang dari KBBI ini akan benar-benar terlupakan dari memori kolektif bangsa.

Terkait fenomena 100 kata hilang dari KBBI, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, terus melakukan berbagai upaya. Mereka menekankan bahwa setiap kosakata memiliki peran penting dalam menjaga identitas dan kekayaan bahasa bangsa.

Beberapa contoh dari 100 kata hilang dari KBBI yang kini jarang terdengar meliputi amerta (abadi), asmaraloka (dunia penuh cinta kasih), babut (permadani), bestari (cerdas dan bijaksana), gemintang (susunan bintang), dan harsa (kegembiraan).

“Kosakata langka adalah warisan budaya. Jika tidak digunakan, bahasa Indonesia akan kehilangan kekayaan ekspresinya,” kata perwakilan Badan Bahasa pada tahun 2026.

Risiko terbesar dari kondisi ini adalah kosakata tersebut akan hilang sepenuhnya dari memori kolektif masyarakat. Generasi muda yang semakin akrab dengan bahasa gaul atau serapan asing menjadi tantangan berat. Selain itu, banyak dari kosakata yang hilang dari KBBI ini sulit diterapkan dalam konteks percakapan modern.

Untuk mengatasi masalah ini, berbagai inisiatif telah diluncurkan. Kampanye “Hidupkan Kata Lama” mulai diperkenalkan di sekolah-sekolah untuk mengenalkan kosakata klasik. Penulis sastra modern juga mulai aktif memasukkan kembali kata-kata langka dalam karya mereka, serta platform digital bahasa meluncurkan fitur “kata hari ini” untuk memperkenalkan 100 kata hilang dari KBBI kepada publik secara luas.