Mengapa Perempuan Kehilangan Motivasi? Lebih dari Sekadar ‘Malas’

Seringkali, ketika seorang perempuan tampak kehilangan semangat atau motivasi dalam menjalankan rutinitas harian, label ‘malas’ dengan mudah disematkan. Namun, realitasnya jauh lebih kompleks daripada sekadar ketidakmauan. Kehilangan motivasi pada perempuan seringkali berakar pada berbagai faktor psikologis, biologis, dan sosial yang luput dari pandangan umum. Portal digital NARASITA memahami bahwa fenomena ini membutuhkan tinjauan yang lebih mendalam, bukan sekadar vonis.

Pandangan bahwa perempuan harus selalu tampil energik dan produktif menempatkan beban ekspektasi yang tinggi. Ketika ekspektasi ini tidak terpenuhi, muncul rasa bersalah dan penilaian negatif, baik dari diri sendiri maupun lingkungan. Padahal, ada beberapa alasan substansial yang bisa menjelaskan mengapa motivasi perempuan bisa menurun drastis.

6 Alasan Utama Perempuan Kehilangan Motivasi dalam Rutinitas

1. Beban Ganda (The Double Burden)

Perempuan modern seringkali menghadapi ‘beban ganda’, yakni tanggung jawab di ranah profesional dan domestik. Setelah seharian bekerja, banyak perempuan masih harus mengurus rumah tangga, mengasuh anak, atau mengelola keuangan keluarga. Beban fisik dan mental yang berkelanjutan ini dapat menguras energi, baik fisik maupun emosional, sehingga menyisakan sedikit ruang untuk motivasi pribadi atau mengejar ambisi lain. Studi dari Organisasi Buruh Internasional (ILO) pada tahun 2018 menunjukkan bahwa perempuan di seluruh dunia menghabiskan rata-rata 4,5 jam per hari untuk pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan yang tidak dibayar, berbanding 1,5 jam oleh laki-laki. Kesenjangan ini secara signifikan berkontribusi pada kelelahan dan hilangnya motivasi.

2. Ketidakseimbangan Hormonal

Faktor biologis memainkan peran penting. Fluktuasi hormon sepanjang siklus menstruasi, kehamilan, pasca melahirkan, atau masa menopause dapat memengaruhi suasana hati, energi, dan tingkat motivasi. Misalnya, penurunan estrogen dan progesteron dapat menyebabkan kelelahan, perubahan suasana hati, dan kesulitan berkonsentrasi, yang semuanya dapat menghambat motivasi untuk menjalankan tugas harian.

3. Kurangnya Pengakuan atau Apresiasi

Banyak pekerjaan yang dilakukan perempuan, terutama di ranah domestik atau peran pendukung, seringkali tidak mendapatkan pengakuan atau apresiasi yang setimpal. Ketika usaha dan kontribusi tidak dihargai, perasaan tidak terlihat dan tidak penting bisa muncul. Ini dapat mengikis motivasi secara perlahan, karena kurangnya feedback positif membuat seseorang merasa usahanya sia-sia.

4. Burnout dan Kelelahan Emosional

Perempuan cenderung lebih sering mengalami burnout karena kecenderungan untuk memikul beban emosional orang lain, berusaha menjadi ‘sempurna’ dalam berbagai peran, dan kesulitan mengatakan ‘tidak’. Kelelahan emosional ini bermanifestasi sebagai hilangnya minat, sinisme, dan perasaan tidak efektif. Ketika seseorang mencapai titik burnout, motivasi adalah salah satu hal pertama yang lenyap.

5. Kurangnya Tujuan atau Kehilangan Arah

Rutinitas yang monoton tanpa tujuan yang jelas atau arah yang berarti dapat mematikan motivasi. Jika seorang perempuan merasa terjebak dalam siklus tugas yang berulang tanpa melihat bagaimana itu berkontribusi pada tujuan yang lebih besar atau kepuasan pribadi, semangatnya bisa padam. Ini bisa terjadi di pekerjaan yang tidak menantang atau dalam kehidupan pribadi yang terasa stagnan.

6. Perfeksionisme dan Ketakutan Akan Kegagalan

Tekanan untuk menjadi sempurna dalam segala hal – sebagai ibu, istri, profesional, atau teman – bisa sangat membebani. Perfeksionisme dapat menyebabkan penundaan dan ketidakmauan untuk memulai tugas baru karena takut tidak memenuhi standar yang tidak realistis. Ketakutan akan kegagalan atau kritik juga dapat melumpuhkan, menyebabkan seseorang memilih untuk tidak bertindak sama sekali daripada berisiko membuat kesalahan.

Memulihkan Kembali Semangat: Langkah Selanjutnya

Memahami bahwa kehilangan motivasi pada perempuan seringkali bukan karena kemalasan, melainkan akibat dari faktor-faktor yang lebih dalam, adalah langkah pertama menuju pemulihan. Penting bagi individu dan lingkungan untuk berhenti melabeli dan mulai mencari tahu akar permasalahannya. Mendukung perempuan untuk mengambil waktu istirahat, mengidentifikasi dan mengungkapkan kebutuhan mereka, mencari bantuan profesional jika diperlukan, serta merayakan pencapaian kecil, adalah cara-cara penting untuk membantu mereka menemukan kembali percikan motivasi dalam rutinitas harian.