Sulteng-Narasita-Pukul 04:00 WITA, Ketika sebagian besar Warga Bahodopi masih terlelap , Dapur Rumah Makan Pak Dul di Desa Bahomakmur, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah sudah mulai sibuk.
Beras ditanak, ikan dibakar, sayuran dimasak dan disiapkan. Karena beberapa jam lagi, pekerja Kawasan Industri mulai berdatangan untuk sarapa sebelum menjalani sif kerja.
Kehadiran IMIP membawa puluhan ribu pekerja ke Bahodopi sekaligus menciptakan kebutuhan baru. Warga meresponsnya dengan membuka berbagai usaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Sebagian membuka warung dan menyewakan kamar. Yang lain menyediakan jasa transportasi, bengkel, laundry, hingga memasok kebutuhan tertentu ke kawasan industri.
Dan dari sinilah Sampai Industri terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Aktivitas di rumah makan itu baru benar-benar berhenti sekitar pukul 22.00 WITA. Selama hampir 18 jam, dapurnya mengikuti ritme kerja kawasan industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Pagi hari, pekerja datang untuk sarapan. Saat jam istirahat, rumah makan kembali dipenuhi pelanggan. Keramaian serupa berulang ketika shift berikutnya selesai.Pola itu menjadi bagian dari keseharian di Bahodopi.
Pasar Baru di Sekitar Kawasan Industri
Besarnya pasar itu terlihat dari jumlah pekerja yang setiap hari beraktivitas di kawasan industri.
Dalam wawancara terbaru, Direktur Komunikasi PT IMIP Emilia Bassar,menyebut jumlah tenaga kerja aktif mencapai 98.552 orang pada Juli 2026.
Pada 2023, jumlah karyawan IMIP tercatat sekitar 74.350 orang. Pada 2024, jumlahnya meningkat menjadi sekitar 83 ribu orang.
Puluhan ribu pekerja itu membawa kebutuhan yang harus dipenuhi setiap hari, mulai dari makanan hingga tempat tinggal dan transportasi.
Survei internal PT IMIP yang disampaikan Emilia Bassar mencatat rata-rata pengeluaran seorang karyawan sekitar Rp5,75 juta per bulan.
Pengeluaran terbesar berasal dari makanan dan minuman sekitar Rp2,19 juta, sewa kos atau kontrakan Rp1,26 juta, rokok Rp828 ribu, kesehatan dan perawatan diri Rp752 ribu, serta transportasi Rp717 ribu.
Jika rata-rata pengeluaran itu dikalikan dengan jumlah pekerja IMIP per Juli 2026, perusahaan memperkirakan perputaran uang di Kecamatan Bahodopi mencapai sekitar Rp566,7 miliar per bulan,atau sekitar Rp6,8 triliun setahun.
Angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan survei internal perusahaan, bukan pencatatan seluruh transaksi ekonomi di Bahodopi.
Meski demikian, nilainya menunjukkan besarnya pasar yang terbentuk di sekitar kawasan industri.
Survei yang sama mencatat sekitar 57 persen karyawan rutin berbelanja di warung atau kios lokal. Jarak yang dekat, harga yang terjangkau dan keinginan mendukung ekonomi setempat menjadi sejumlah alasan yang disebutkan.
Sebagian pendapatan pekerja akhirnya kembali berputar di masyarakat.
Uang yang semula berasal dari aktivitas industri berpindah ke rumah makan, pemilik kos, pedagang, bengkel, pengemudi, laundry dan berbagai usaha lain.
Sederhananya, kebutuhan pekerja menciptakan pasar baru. Pasar itu kemudian diisi warga melalui warung, kos, bengkel, jasa transportasi, laundry, dan usaha lainnya.
Delapan Kamar dan Rp7 Juta Sebulan
Salah satu warga yang merasakan perubahan itu adalah Munira.
Ia menyewakan delapan kamar kepada pekerja IMIP. Dari delapan kamar tersebut, pendapatannya sekitar Rp7 juta setiap bulan.
“Di depan rumah saja disewakan. Biar kata kita punya kamar kosong di dalam rumah disewakan juga. Tetangga saya punya nasib yang sama,” ujar Munira.
Bagi Munira, kamar yang sebelumnya kosong kini menjadi sumber penghasilan tambahan.
Kebutuhan tempat tinggal pekerja juga menciptakan permintaan lain. Kamar membutuhkan listrik, air, perabot dan perawatan. Pendapatan itu kemudian ikut mengalir ke kebutuhan lain, mulai dari listrik dan air hingga perawatan kamar.
Hal yang sama terjadi pada usaha makanan.
Warung membutuhkan beras, ikan, sayur, minyak dan bahan lainnya. Pedagang membutuhkan pemasok. Pemasok membutuhkan petani dan jasa angkutan.
Rantai tersebut memberikan dampak ekonomi kawasan industri bergerak lebih jauh dari sekadar aktivitas jual beli antara pekerja dan pedagang.
UMKM Mengikuti Pergerakan Pekerja
Pertumbuhan pasar kemudian terlihat pada jumlah UMKM.
Survei internal PT IMIP mencatat jumlah UMKM di Kecamatan Bahodopi meningkat dari 4.697 unit pada 2021 menjadi 5.034 unit pada 2022.
Jumlahnya naik menjadi 6.617 unit pada 2023, 7.318 unit pada 2024 dan mencapai 7.643 unit pada 2025.
Dalam empat tahun, jumlah UMKM meningkat sekitar 62,7 persen.
Data Maret 2025 juga mencatat UMKM tersebut menyerap sekitar 16.705 tenaga kerja.
Sektor kuliner menjadi salah satu sektor yang berkembang mengikuti kebutuhan pekerja. Data per Oktober 2025 menunjukkan sekitar 2.107 unit usaha bergerak di bidang kuliner, termasuk kafe dan restoran.
Usaha lain juga bermunculan, mulai dari kios, stan minuman dan makanan, bengkel, agen perbankan, konter pulsa, toko pakaian, toko sepatu hingga usaha alat pelindung diri.
Namun pertumbuhan tersebut tidak berarti semua usaha bertahan.
Data terbaru PT IMIP menunjukkan jumlah unit usaha di Bahodopi sekitar 7.190 unit pada April 2026, turun dari 7.643 unit pada 2025. Pada saat yang sama, tenaga kerja yang terserap justru meningkat menjadi sekitar 17.080 orang.
Data tersebut memberi gambaran bahwa bertambahnya aktivitas industri tidak otomatis membuat jumlah unit usaha terus meningkat.
Pada saat yang sama, jumlah tenaga kerja yang terserap justru meningkat menjadi sekitar 17.080 orang.
Karena itu, persoalan berikutnya bukan sekadar berapa banyak usaha yang muncul, melainkan seberapa banyak yang mampu bertahan dan naik kelas.
Ketika Warga Mulai Memasok Industri
Selama ini, hubungan ekonomi antara kawasan industri dan masyarakat paling mudah dilihat dari sisi konsumsi.
Pekerja membeli makanan, menyewa kamar, menggunakan transportasi atau berbelanja di kios.
Namun ada perubahan yang lebih penting ketika produk masyarakat mulai masuk ke kebutuhan kawasan.
Contohnya datang dari sektor pertanian.
Tiga kelompok tani binaan, yakni Kelompok Tani Suka Maju, Berkah Mombula dan Pomponangi, sejak 2025 memasok sayuran untuk kebutuhan Central Kitchen IMIP.
Rata-rata pasokan mencapai sekitar 40 ton sayuran per bulan dan memenuhi sekitar 18 persen kebutuhan sayur kawasan.
Nilai transaksi dari kelompok yang telah berjalan penuh pada 2025 mencapai hampir Rp800 juta.
Hubungan tersebut menunjukkan perubahan posisi masyarakat.
Petani tidak hanya menjual hasil panen kepada pasar lokal. Produk mereka mulai masuk ke dalam kebutuhan kawasan industri.
Cerita serupa datang dari Kelompok Ecoprint Intan Permata di Desa Matansala.
Melalui kemitraan yang diperkuat lewat nota kesepahaman pada 2025, produk kelompok tersebut mulai terserap untuk kebutuhan perusahaan dan pekerja.
Sekitar 100 produk tote bag ecoprint terserap pada 2025. Pendapatan bulanan kelompok itu juga disebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan sebelumnya.
Skalanya memang belum sebanding dengan besarnya industri.
Tetapi arah hubungannya penting.
Masyarakat mulai memiliki kesempatan untuk bergerak dari sekadar melayani kebutuhan pekerja menjadi bagian dari rantai pasok.
Peluang Besar, Kapasitas Masih Terbatas
Pasar yang terbentuk di Bahodopi memang besar. Namun sebagian besar pelaku usaha masih berada pada skala mikro.
Survei terhadap usaha sampel PT IMIP menunjukkan Dari 50 unit usaha yang menjadi sampel, sebanyak 39 usaha atau 78 persen masuk kategori usaha mikro dengan omzet maksimal Rp300 juta per tahun.
Jenis usaha mikro tersebut antara lain bengkel kendaraan bermotor, apotek dan klinik, pangkas rambut atau salon, penginapan, serta stan makanan nonbangunan.
Sementara itu, 11 usaha lainnya atau 22 persen masuk kategori usaha kecil. Jenisnya meliputi Pertamini, warung makan, kios besar, kios yang dilengkapi Pertamini, serta stan minuman nonbangunan.
Dari sisi omzet, usaha kecil memiliki skala yang lebih besar. Omzet tahunan usaha dalam kategori ini berkisar lebih dari Rp300 juta hingga Rp2,5 miliar.
Kondisi tersebut menjadi pekerjaan berikutnya.
Pelaku usaha perlu meningkatkan kapasitas produksi, kualitas, legalitas dan kemampuan mengakses pasar agar peluang yang muncul dari kawasan industri tidak berhenti pada transaksi harian.
PT IMIP melalui program Sinergi Cipta Daya yang berjalan sejak 2022 mengembangkan sejumlah sektor berbasis potensi desa, termasuk pertanian, perikanan, pariwisata, ekonomi kreatif dan UMKM.
Pendampingan tersebut mencakup legalitas usaha, peningkatan kualitas produk, pengelolaan usaha, pemasaran, hingga dukungan sarana produksi.
Hingga 2026, sebanyak 23 UMKM di Kecamatan Bahodopi disebut telah mendapatkan pendampingan legalitas usaha.
Program pemberdayaan tersebut pada akhirnya akan dinilai dari hasilnya.Apakah kapasitas produksi meningkat, produk memiliki pasar, pendapatan bertambah dan usaha dapat berjalan secara mandiri.
Pertumbuhan Bahodopi dan Ekonomi Morowali
Perubahan Bahodopi merupakan bagian dari transformasi ekonomi Morowali.
Berdasarkan publikasi BPS Kabupaten Morowali, PDRB atas dasar harga berlaku Kabupaten Morowali mencapai sekitar Rp188,86 triliun pada 2025.Nilai tersebut meningkat jauh dibandingkan sekitar Rp7,55 triliun pada 2014.
Pertumbuhan tersebut memperlihatkan perubahan besar dalam struktur ekonomi Morowali dalam satu dekade terakhir.
Namun pertumbuhan ekonomi makro belum otomatis menjawab bagaimana manfaatnya tersebar di tingkat masyarakat.
Di sinilah UMKM dan rantai pasok lokal menjadi penting.
Semakin banyak masyarakat yang mampu menjadi pelaku usaha, produsen dan pemasok, semakin besar peluang pertumbuhan industri memberi dampak ekonomi yang lebih luas.
Wakil Bupati Morowali Iriane Iliyas mengatakan pemerintah daerah akan terus mendorong penguatan UMKM agar masyarakat lokal dapat mengambil bagian dalam pertumbuhan industri.
“Pemerintah daerah akan terus mendorong penguatan UMKM, sehingga masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton dari pertumbuhan industri, tetapi juga menjadi pelaku dan penerima manfaat dari perputaran ekonomi di Morowali,” ujarnya.(21/8/2026).
Menjaga Dampak agar Bertahan Lama
Besarnya pasar yang terbentuk belum otomatis membuat seluruh usaha menjadi kuat.
Sebagian pelaku usaha masih bergantung pada kebutuhan pekerja kawasan industri. Karena itu, kemampuan memperluas pasar menjadi penting agar usaha tidak hanya bergantung pada aktivitas harian di kawasan.
PT IMIP menyiapkan roadmap Sinergi Cipta Daya 2026–2030 yang diarahkan pada penguatan UMKM, pengembangan produk, standardisasi, perluasan pasar, digitalisasi hingga integrasi dengan rantai pasok.
Targetnya, UMKM yang telah bekerja sama dengan perusahaan didorong meningkatkan omzet sekitar 20 persen.
Bagi Emilia Bassar, tujuan akhirnya bukan sekadar menciptakan lapangan kerja.
“Yang ingin kami wariskan bukan hanya lapangan kerja, tapi ekosistem ekonomi lokal yang mandiri dan berkelanjutan,” kata Emilia, (21/8/2026).
Bagi Bahodopi, tantangan itu menjadi penting karena perubahan yang terjadi berlangsung cepat.
Industri telah menciptakan pasar.
Kini masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk menangkap pasar tersebut dan mengubahnya menjadi usaha yang lebih kuat.
Ketika Dampak Industri Terlihat di Luar Pagar
Pukul 04.00 WITA.
Saat sebagian warga Bahodopi masih tidur, dapur Rumah Makan Pak Dul kembali menyala.
Beras ditanak. Ikan dibakar. Sayuran disiapkan.
Beberapa jam kemudian, pekerja IMIP mulai berdatangan untuk sarapan sebelum masuk shift.
Pemandangan itu berulang hampir setiap hari.
Di tempat lain, pemilik kos menunggu penghuni pulang, bengkel melayani kendaraan, pedagang membuka kios, dan petani menyiapkan sayuran untuk dikirim ke kawasan industri.
Semua bergerak dalam rantai ekonomi yang sama.
Industri berada di dalam pagar. Namun aktivitas ekonominya tidak berhenti di sana.
Ia mengalir ke rumah makan, kamar kos, bengkel, kendaraan, lahan pertanian, hingga usaha kecil yang tumbuh di sepanjang jalan Bahodopi.
Tantangannya kini bukan lagi sekadar seberapa besar pasar yang tercipta, tetapi seberapa jauh warga dapat mengubah peluang itu menjadi usaha yang bertahan dan berkembang.
Sebab bagi warga Bahodopi, dampak industri bukan hanya terlihat dari besarnya kawasan di balik pagar. Ia juga terlihat setiap pagi, ketika dapur-dapur mulai menyala sebelum matahari terbit.Ist





