PALU, NARASITA – Hampir seluruh wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng) telah memasuki Musim Kemarau Sulteng pada Agustus 2026. Kondisi ini ditandai dengan minimnya pertumbuhan awan hujan di sebagian besar wilayah, meningkatkan kewaspadaan akan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di seluruh Musim Kemarau Sulteng.
Forecaster Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al Jufri Palu, Fathan Labanu, menjelaskan kondisi cuaca di Sulteng sejak awal Agustus didominasi cuaca cerah. Hal tersebut berdasarkan hasil pemantauan satelit dan radar cuaca BMKG. Selama Musim Kemarau Sulteng, udara menjadi lebih kering.
“Memang terpantau dari satelit cuaca maupun radar cuaca bahwa hampir seluruh wilayah Sulawesi Tengah berada pada kondisi di mana pertumbuhan awan tidak tumbuh begitu maksimal,” kata Fathan saat ditemui di Kantor BMKG Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al Jufri Palu, Kelurahan Birobuli Utara, Kecamatan Palu Selatan, Selasa (11/8/2026).
Menurut Fathan, minimnya pertumbuhan awan menyebabkan awan yang berpotensi menghasilkan hujan juga semakin sedikit. Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya kelembapan udara sehingga lingkungan menjadi lebih kering selama Musim Kemarau Sulteng ini.
“Jadi, dari pantauan kami, hampir seluruh wilayah Sulawesi Tengah dalam kondisi cerah. Tidak ada pertumbuhan awan maupun awan-awan yang berpotensi menghasilkan hujan,” ujarnya.
Fathan menjelaskan, Musim Kemarau Sulteng di sejumlah wilayah sebenarnya telah dimulai sejak Juli 2026. Memasuki Agustus, wilayah yang mengalami kondisi kemarau semakin meluas hingga mencakup hampir seluruh wilayah Sulteng.
“Apalagi di Agustus ini, hampir semua wilayah sudah masuk ke Musim Kemarau Sulteng,” kata Fathan.
Kondisi tersebut membuat sebagian wilayah Sulteng mengalami cuaca yang lebih kering dibandingkan periode sebelumnya, memperparah potensi kekeringan.
Cuaca yang lebih kering juga meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menurut Fathan, beberapa kejadian karhutla bahkan telah terjadi di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah.
“Ketiadaan awan tadi mengakibatkan kurangnya pertumbuhan awan hujan di wilayah Sulawesi Tengah. Sehingga ada potensi, bahkan sudah terjadi beberapa karhutla di beberapa wilayah,” ujarnya.
BMKG pun telah mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla selama periode Musim Kemarau Sulteng. Masyarakat diminta berhati-hati dalam melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, terutama di wilayah dengan kondisi lahan dan vegetasi yang semakin kering. BMKG juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan serta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kebakaran.





