MANGGARAI, NARASITA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mempercepat pembangunan Rumah Sakit Lapangan Manggarai di Stadion Golo Dukal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Fasilitas kesehatan sementara ini disiapkan untuk memastikan pelayanan medis dan tindakan operasi bagi korban gempa tetap berjalan, meskipun sejumlah fasilitas kesehatan terdampak bencana.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meninjau langsung persiapan Rumah Sakit Lapangan Manggarai tersebut pada Selasa, 18/08.
Budi mengatakan, saat ini telah dipasang lima tenda yang difungsikan untuk pelayanan pasien dan operasi. Pembangunan Rumah Sakit Lapangan Manggarai ini merupakan respons cepat terhadap kebutuhan mendesak.
“Di sini sudah kita pasang lima tenda. Empat untuk pasien, masing-masing bisa menampung 20 pasien, kemudian satu khusus untuk ruang operasi karena ruangnya steril dan bisa dibuat terisolasi. Kita harapkan besok sudah mulai beroperasi,” kata Budi, dikutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan RI.
Selain ruang rawat inap dan ruang operasi, Rumah Sakit Lapangan Manggarai tersebut dilengkapi satu tenda untuk instalasi gawat darurat (IGD).
Dengan tiga tenda rawat inap yang masing-masing berkapasitas 20 pasien, fasilitas awal Rumah Sakit Lapangan Manggarai itu dapat menyediakan sekitar 60 tempat tidur. Kemenkes berencana menambah tenda rawat inap sehingga kapasitasnya dapat ditingkatkan menjadi sedikitnya 100 tempat tidur.
“Kita akan tambah lagi sehingga minimal menjadi 100 rawat inap. Kita sedang kirim tenda tambahan dari Bali,” kata Budi.
Rumah Sakit Lapangan Manggarai ini dirancang untuk memberikan pelayanan yang aman dan nyaman bagi pasien. Area rawat inap menggunakan lantai khusus yang memudahkan mobilisasi pasien dan peralatan medis. Penggunaan lantai tersebut juga ditujukan untuk menjaga kebersihan serta mencegah masuknya air ke dalam tenda saat hujan.
Tenda yang digunakan merupakan tenda standar tanggap bencana yang telah digunakan dalam berbagai respons bencana, termasuk oleh organisasi kemanusiaan internasional.
Salah satu fasilitas penting yang disiapkan adalah ruang operasi. Tenda tersebut dirancang sebagai ruang steril yang dapat diisolasi untuk menjaga keselamatan pasien dan mencegah infeksi selama tindakan pembedahan. Ruang operasi dilengkapi lampu operasi, meja operasi, serta area untuk memasukkan dan menyiapkan peralatan medis. Sebelum digunakan, ruangan akan melalui proses pembersihan dan sterilisasi.
“Ini ruang operasi. Nanti disterilisasi. Ruang ini steril dan bisa diisolasi. Fasilitas seperti ini pernah digunakan saat bencana di Sumedang dan juga bencana di Aceh,” kata Budi.
Keberadaan ruang operasi dinilai penting untuk menangani pasien trauma, termasuk korban yang mengalami patah tulang akibat tertimpa bangunan. Dengan fasilitas Rumah Sakit Lapangan Manggarai ini, pasien dapat memperoleh tindakan medis tanpa harus menunggu hingga rumah sakit utama kembali berfungsi.
Selain di Manggarai, Kemenkes berencana menerapkan konsep Rumah Sakit Lapangan serupa di Kabupaten Nagekeo. “Kita akan replikasi rumah sakit lapangan ini selain di Ruteng juga di Nagekeo,” kata Budi.
Langkah tersebut menjadi bagian dari respons cepat pemerintah untuk menjaga kesinambungan pelayanan kesehatan di wilayah yang fasilitas rumah sakit rujukannya terdampak gempa. Kemenkes juga terus memobilisasi tenaga kesehatan, termasuk dokter spesialis, serta menyiapkan kebutuhan logistik kesehatan untuk menangani pasien yang membutuhkan pelayanan lanjutan dan tindakan operasi.
Melalui Rumah Sakit Lapangan Manggarai, dukungan tenaga medis, dan ketersediaan logistik, pemerintah memastikan masyarakat terdampak gempa tetap memperoleh pelayanan kesehatan secara cepat, aman, dan sesuai kebutuhan.






