Palu, NARASITA – Laporan terbaru per 19 Juli 2026 menyoroti kondisi mengkhawatirkan lima hewan endemik Sulawesi Tengah terancam punah. Anoa, kakatua jambul kuning, maleo, kera hitam Sulawesi, dan kura-kura hutan Sulawesi menghadapi ancaman serius dari perburuan liar, alih fungsi hutan, serta hilangnya habitat yang drastis. Kondisi ini membuat berbagai pihak menyerukan upaya konservasi yang lebih intensif.
Sejumlah spesies kunci yang menjadi ikon biodiversitas Sulawesi Tengah kini berada di ambang kepunahan. Anoa, yang dikenal sebagai “kerbau kerdil” endemik, dilaporkan semakin sulit dijumpai di habitatnya. Selain itu, kondisi populasi maleo dan kakatua jambul kuning juga sangat kritis, membuat daftar hewan endemik Sulawesi Tengah terancam punah ini semakin panjang.
Penyebab utama ancaman terhadap hewan endemik Sulawesi Tengah terancam punah ini adalah deforestasi dan alih fungsi lahan menjadi perkebunan atau permukiman. Perburuan liar dan perdagangan satwa juga terus menjadi faktor besar, terutama untuk kakatua jambul kuning dan anoa yang memiliki nilai jual tinggi. Hilangnya lokasi peneluran spesifik sangat berbahaya bagi maleo dan kura-kura hutan Sulawesi.
Kakatua jambul kuning di Pulau Pasoso, Kabupaten Donggala, dilaporkan hanya tersisa dua ekor pada 2022, menunjukkan statusnya sangat genting. Sementara itu, maleo di kawasan Bakiriang, Banggai, hanya ditemukan dua hingga empat ekor per hari dalam pengamatan lapangan, terdesak oleh ekspansi sawit dan perburuan. “Tinggal satu pasang dan bisa dibilang kakatua jambul kuning terancam punah,” kata Hasmuni, Mantan Kepala BKSDA Sulawesi Tengah.
Hasmuni juga menyatakan bahwa populasi anoa dan babi rusa kian berkurang dan sulit dijumpai di kawasan konservasi. Pernyataan ini menegaskan bahwa tidak hanya satu jenis, tetapi banyak hewan endemik Sulawesi Tengah terancam punah akibat tekanan masif terhadap lingkungan mereka. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah pada 03/07/2026 bahkan memublikasikan materi khusus tentang anoa sebagai hewan endemik yang terancam punah.
Kera hitam Sulawesi atau Macaca nigra di Sulawesi Tengah diperkirakan tidak lebih dari 1.000 ekor di habitat alaminya, menjadikannya spesies primata yang rentan. Senada, kura-kura hutan Sulawesi atau Indotestudo forstenii disebut sangat langka dan terancam punah karena kehilangan habitat serta perburuan. “Saat ini populasi kura-kura hutan atau Indotestudo forstenii sudah sangat langka, sehingga terancam punah kehilangan habitat,” kata Given, Direktur Yayasan Komiu Sulawesi Tengah. Upaya perlindungan hewan endemik Sulawesi Tengah terancam punah ini membutuhkan kerja sama serius dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat, sesuai arahan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang membawahi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat. Informasi lebih lanjut dapat ditemukan di situs resmi Kementerian LHK.
Kondisi kritis ini menuntut perhatian segera dari semua pihak untuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati Sulawesi Tengah. Tanpa tindakan konservasi yang efektif, dikhawatirkan beberapa hewan endemik Sulawesi Tengah terancam punah ini akan benar-benar lenyap dari alam pada tahun-tahun mendatang, meninggalkan kehilangan yang tidak tergantikan bagi ekosistem global.





