Narasita.com- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palu terus menggencarkan pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi tambahan campak guna menekan peningkatan kasus suspek yang terjadi belakangan ini. Program tersebut ditargetkan menjangkau 95 persen anak usia 9–59 bulan hingga 18 April 2026.

Epidemiolog Ahli Muda Dinkes Kota Palu, Nirnawita, mengatakan pelaksanaan ORI telah dimulai sejak 30 Maret 2026 dan saat ini terus berjalan di berbagai titik, termasuk sekolah, posyandu, hingga kunjungan dari rumah ke rumah.

“Harapannya sampai tanggal 18 April nanti, 95 persen dari sasaran usia 9–59 bulan sudah mendapatkan imunisasi tambahan campak,” ujar Nirnawita, Rabu (8/4/2026).

Ia menyebutkan total sasaran imunisasi mencapai 32.935 anak yang tersebar di seluruh kelurahan di Kota Palu. Jumlah tersebut telah dihitung melalui kajian kebutuhan, termasuk penyediaan logistik vaksin.

Dalam pelaksanaan di salah satu sekolah, Dinkes menargetkan 30 siswa. Namun, delapan di antaranya tidak dapat diimunisasi karena telah berusia di atas lima tahun.

“Alhamdulillah, sisanya yang sesuai sasaran sudah mendapatkan imunisasi,” kata dia.

Selain menyasar sekolah, Dinkes juga mengoptimalkan layanan di posyandu dan melakukan kunjungan langsung ke rumah warga guna memastikan seluruh target tercapai.

Upaya ini turut didukung oleh surat edaran Wali Kota Palu tertanggal 31 Maret 2026 yang menginstruksikan Dinas Pendidikan untuk menyampaikan pelaksanaan imunisasi tambahan campak kepada sekolah, khususnya jenjang PAUD dan TK.

“Kalau ada sekolah yang belum mendapatkan informasi, bisa langsung mengajukan ke puskesmas di wilayah masing-masing,” ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan data terbaru, jumlah kasus suspek campak di Kota Palu masih berada di kisaran 550 kasus. Namun, angka tersebut masih menunggu konfirmasi laboratorium untuk memastikan jumlah kasus positif.

Kota Palu sendiri saat ini termasuk dalam 30 kabupaten/kota di Indonesia yang mengalami peningkatan signifikan kasus suspek campak.

Nirnawita mengingatkan bahwa campak bukan penyakit ringan karena berpotensi menimbulkan komplikasi serius, seperti radang otak, radang paru, hingga kematian.

“Yang kita takutkan adalah komplikasinya. Campak bisa berujung fatal, terutama pada anak-anak,” ujarnya.

Ia menambahkan, kelompok paling rentan adalah anak usia di bawah 59 bulan sehingga perlu segera mendapatkan perlindungan melalui imunisasi tambahan, terutama di wilayah yang telah berstatus kejadian luar biasa (KLB).

“Ini upaya pencegahan agar KLB tidak meluas dan kasus tidak semakin banyak. Prinsipnya sama seperti vaksinasi Covid-19 yang terbukti mampu menekan kasus dengan cepat,” kata Nirnawita.

Salah satu orang tua siswa, Christina K., mengaku mendukung penuh program imunisasi tersebut. Menurut dia, langkah pemerintah sangat penting untuk memutus rantai penularan campak di tengah status KLB di Kota Palu.

“Karena sekarang Palu masuk KLB campak, kami sangat mendukung program vaksinasi ini,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi langkah puskesmas yang turun langsung ke sekolah sehingga memudahkan orang tua, khususnya yang anaknya sudah bersekolah di tingkat playgroup dan taman kanak-kanak.

“Kalau harus ke puskesmas mungkin sulit mengatur waktu. Jadi dengan datang ke sekolah, ini sangat membantu,” katanya.

Christina menambahkan, proses imunisasi juga berlangsung dengan baik karena petugas memberikan penjelasan secara ramah serta menyampaikan persyaratan, seperti membawa kartu keluarga dan persetujuan orang tua.

“Pelayanannya sangat baik dan informatif, jadi kami merasa terbantu,” ucapnya.rul