INTERNASIONAL, NARASITA – Perselisihan UEFA dan FIFA terbuka setelah final Piala Dunia 2026 pada 19/07/2026 di Stadion MetLife, New Jersey. Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, memboikot acara puncak tersebut sebagai bentuk protes terhadap sejumlah keputusan kontroversial FIFA, yang dipimpin oleh Gianni Infantino. Ketidakpuasan UEFA berakar pada skandal Folarin Balogun, isu distribusi keuntungan komersial, serta masalah independensi wasit.

Aksi boikot Ceferin menjadi simbol ketegangan diplomatik sepak bola internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia secara resmi menyampaikan protes keras dan bahkan membuka kemungkinan untuk menempuh jalur hukum terhadap FIFA. Krisis ini muncul sebagai puncak dari akumulasi ketidakpuasan UEFA terhadap pengelolaan dan transparansi FIFA.

Salah satu pemicu utama perselisihan ini adalah skandal Folarin Balogun. FIFA membatalkan hukuman kartu merah yang diterima Balogun setelah adanya intervensi politik, sebuah langkah yang memicu kritik tajam dari UEFA. Keputusan ini dinilai merusak integritas dan prinsip keadilan dalam olahraga, menambah daftar panjang alasan perselisihan UEFA dan FIFA.

Selain itu, UEFA juga menyoroti kurangnya transparansi dari FIFA terkait distribusi hak siar dan sponsor Piala Dunia 2026. Mereka merasa pembagian keuntungan tidak adil dan tidak berdasarkan kaidah yang jelas. Insiden wasit Somalia, Omar Artan, yang ditolak masuk AS dan gagal memimpin pertandingan, semakin memperparah ketidakpercayaan UEFA terhadap perlindungan independensi wasit oleh FIFA.

“Saya tidak bisa menghadiri final ketika FIFA mengabaikan prinsip transparansi dan keadilan,” kata Aleksander Ceferin, Presiden UEFA.

“Kami menyesalkan absennya Presiden UEFA. Piala Dunia adalah momen persatuan, bukan perpecahan,” kata FIFA, dalam pernyataan resminya.

Dampak dari perselisihan UEFA dan FIFA ini telah merambah ke ranah politik, dengan Parlemen Eropa menyerukan investigasi terhadap FIFA atas dugaan intervensi politik. Media-media Eropa secara luas menyoroti situasi ini sebagai krisis diplomasi sepak bola internasional yang serius.

Masa depan kerja sama antara kedua badan sepak bola terbesar dunia ini dalam proyek kompetisi global mendatang terancam. UEFA mempertimbangkan langkah hukum bila FIFA tidak segera memperbaiki sistem pengawasan dan tata kelola mereka, menunjukkan keseriusan perselisihan UEFA dan FIFA yang sedang berlangsung.