JAKARTA, NARASITA – Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) berkomitmen serius untuk mengatasi persoalan “kalah mental” yang kerap menghinggapi Timnas Indonesia. Mulai tahun 2026, PSSI akan mengimplementasikan pendekatan Sport Science Timnas Indonesia secara komprehensif, bertujuan untuk membentuk mental baja pemain dan menghilangkan stigma negatif tersebut.
Wakil Ketua Umum PSSI, Ratu Tisha Destria, menegaskan bahwa permasalahan mental pemain tidak lagi boleh menjadi obrolan warung kopi. Pendekatan Sport Science Timnas Indonesia akan menjadi landasan untuk kajian ilmiah berbasis riset psikologi dan fisik, menggantikan diskusi informal yang selama ini terjadi.
Program utama yang akan menjadi laboratorium pembentukan mental adalah Liga Universitas Coca-Cola 2026, dengan mengangkat tema ‘Football For Mental Health’. Ratu Tisha menjelaskan bahwa program ini akan fokus pada penguatan fisik (physical strengthening), pengondisian (conditioning), pencegahan cedera (injury prevention), serta penerapan aturan sin bin untuk melatih kontrol emosi di lapangan.
“Masalah ‘kalah mental’ tidak boleh lagi jadi obrolan warung kopi. Kami akan transformasikan ini menjadi riset ilmiah menggunakan Sport Science Timnas Indonesia,” kata Ratu Tisha.
Dalam jangka panjang, PSSI menargetkan bahwa dalam waktu 10 tahun, Timnas Indonesia akan dikenal sebagai tim dengan mentalitas terkuat di Asia. Target ini mencontoh ketenangan dan kekuatan mental tim nasional Jepang dalam menghadapi tekanan di pertandingan besar. Pendekatan Sport Science Timnas Indonesia diharapkan mampu menghasilkan data terukur untuk evaluasi dan perbaikan berkelanjutan.
Untuk mencapai tujuan tersebut, PSSI akan menerapkan metode latihan langsung di lapangan. Hal ini berbeda dengan pendekatan teori kelas, di mana pemain akan dilatih untuk menghadapi situasi nyata di bawah tekanan. Dengan demikian, diharapkan mental rapuh di laga besar dapat diatasi melalui latihan fisik dan conditioning yang terukur, sehingga pemain memiliki mental baja di level Asia.






