Narasita.com- JAKARTA – Ratusan pemuda yang tergabung dalam Koalisi Save Our Surroundings (SOS), beranggotakan 50 organisasi melakukan car free day (CFD) dalam rangka merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) untuk menyuarakan hidup sehat tanpa rokok.
Data Riset Kesehatan Indonesia (Riskesdas) 2023 menunjukkan jumlah perokok aktif di Indonesia mencapai lebih dari 70,2 juta jiwa. Tren terus meningkat dari tahun ke tahun dan menempatkan Indonesia sebagai peringkat ke-3 dunia negara dengan jumlah konsumen tembakau tertinggi secara global, setelah China dan India.
Koalisi Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC) Lazuardi Hakiman Hanif mengatakan sebagai jumlah perokok muda semakin masif bertambah karena banyaknya rokok murah dan terpapar iklan rokok. Sebagai pemuda dan generasi penerus bangsa, dia mengaku khawatir, bila hal ini terus menerus dibiarkan.
“Remaja yang terpapar iklan rokok punya peluang 1,67 kali lebih besar untuk ikut terjerat jadi perokok aktif,” ungkapnya saat CFD, Minggu (7/6/2026).
Lazuardi menambahkan bahwa pihaknya memiliki program Dewan Perwakilan Remaja (DPRemaja), sebagai wadah belajar untuk menyuarakan aspirasi kebijakan dan pemantauan lapangan. Dari temuan lapangan DPRemaja di Cilincing, Matraman, dan Tanah Abang saja, ada 86.541 anak yang setiap hari terpaksa terpapar asap rokok dan dikepung oleh 254 titik iklan.
Menurutnya, produk tembakau dan vape yang dikemas dalam iklan bertema petualangan, bisa membuat generasi muda rentan terhadap adiksi nikotin. Produk tembakau bisa merusak generasi unggul dan Indonesia Cemas 2045.
Ketua Umum Komnas Pengendalian Tembakau, Prof. Hasbullah Thabrany mengatakan bahwa pemerintah rezim ini tampaknya lebih fokus pada program-program bombastis-populis dan cenderung menutup mata pada kenyataan. Dia meminta agar pemerintah tidak menjadikan cukai sebagai instrumen utama dalam pemasukan negara, sebab setiap tahunnya ada 290.000 orang yang meninggal karena rokok.
“Kami bahkan meragukan apakah Presiden menyadari bahwa masyarakat kita sedang terjebak pada adiksi yang selama ini dibiarkan tanpa kontrol serius. Rakyat sedang diperas oleh industri perusak yang terus mengeruk keuntungan. Untuk itu, kami menuntut perubahan frontal,” tegasnya.
Prof. Hasbullah mengatakan ditambahkan lagi dengan masifnya pemasaran rokok elektronik seakan tak terbendung yang menghasilkan pertumbuhan konsumsi rokok elektronik hingga 10 kali lipat dalam satu dekade. Ditambah maraknya penyalahgunaan narkoba melalui vape, menjadi alarm keras bagi Presiden Prabowo untuk berbenah dan mengambil langkah tegas demi melindungi masyarakat serta masa depan bangsa.
Sebagai informasi, tema HTTS yang diusung oleh Koalisi SOS adalah “Bongkar Jebakannya” yang berfokus pada tiga pesan kunci WHO tentang nikotin sintetis, kebijakan larangan perisa, dan penolakan pengaruh industri rokok.rls





