PALU, NARASITA – Sulawesi Tengah berada di zona tektonik kompleks, dihantui puluhan sesar aktif Sulawesi Tengah yang berpotensi memicu gempa bumi dangkal. Ancaman ini tidak hanya dari Sesar Palu-Koro yang memicu gempa M7,5 pada 28/09/2018, tetapi juga dari sesar lain seperti Sesar Sausu yang terkait gempa 16/06/2026. Informasi ini vital bagi mitigasi bencana dan tata ruang di wilayah tersebut.
Wilayah Sulawesi Tengah dikenal memiliki jaringan sesar aktif darat yang padat. Selain Sesar Palu-Koro, beberapa sesar lain yang turut berkontribusi pada risiko kegempaan regional meliputi Sesar Sausu, Sesar Poso, Sesar Matano, Sesar Balantak, Sesar Batui, Sesar Besoa, Sesar Palolo, dan Nokilalaki. Keberadaan sesar aktif Sulawesi Tengah ini menjadikan provinsi tersebut sebagai salah satu daerah rawan gempa tinggi.
Pusat perhatian mengenai sesar aktif Sulawesi Tengah sering kali tertuju pada Sesar Palu-Koro, sebuah sesar geser mendatar aktif yang membentang sekitar 500 km dari Teluk Bone hingga Selat Makassar. Sesar ini sangat aktif dan memiliki catatan gempa bersejarah, termasuk kejadian pada 1905, 1907, 1909, 1927, 1934, 1968, 1985, 1993, dan yang paling merusak pada 28/09/2018.
Gempa Palu berkekuatan M7,5 pada 28/09/2018 yang dipicu Sesar Palu-Koro telah memicu tsunami dan likuefaksi besar, menewaskan lebih dari 4.000 orang. Peristiwa ini menunjukkan betapa berbahayanya potensi bencana dari sesar aktif Sulawesi Tengah yang berada dekat dengan permukiman padat penduduk. Kewaspadaan terhadap ancaman ini harus terus ditingkatkan.
Pada 16/06/2026, aktivitas sesar aktif Sulawesi Tengah kembali menjadi sorotan setelah gempa M6,7 terjadi di sekitar Torue, Kabupaten Parigi Moutong. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa gempa dangkal tersebut dipicu oleh aktivitas Sesar Sausu dengan mekanisme pergerakan turun atau normal fault. Ini memperkuat fakta bahwa ancaman gempa di Sulawesi Tengah tidak hanya berasal dari satu sumber sesar.
Menurut laporan yang dihimpun dari berbagai sumber, “Peristiwa ini memperlihatkan bahwa ancaman gempa di Sulawesi Tengah tidak hanya berasal dari Sesar Palu-Koro yang terkenal akibat bencana 2018, tetapi juga dari sejumlah sesar aktif lainnya yang tersebar di berbagai wilayah provinsi tersebut,” kata laporan media.
BMKG Stasiun Geofisika Palu juga mengidentifikasi banyaknya sesar aktif Sulawesi Tengah. “Data dari BKKG Stasiun Geofisika Palu di Sulawesi Tengah, terdapat 30 sesar aktif,” kata BMKG Stasiun Geofisika Palu. Angka ini menegaskan kompleksitas geologi dan tingginya potensi gempa di provinsi tersebut.
Beberapa sesar aktif Sulawesi Tengah penting lainnya meliputi Sesar Poso yang berpotensi gempa dangkal di sekitar Danau Poso, Sesar Matano yang merupakan sesar geser mengiri aktif di Sulawesi bagian tengah, serta Sesar Balantak dan Sesar Batui di kawasan Banggai yang dapat memengaruhi wilayah pesisir dan industri.
Meskipun istilah megathrust umumnya merujuk pada gempa besar di zona subduksi antarlempeng, dalam konteks Sulawesi Tengah, fokus utama pemberitaan dan riset justru pada gempa yang dipicu oleh sesar aktif Sulawesi Tengah di darat. Tidak ditemukan satu kejadian yang secara luas dan tegas dipublikasikan sebagai “gempa megathrust Sulawesi Tengah” dengan episentrum utama di daratan.
Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa Sulawesi Tengah berada dalam sistem tektonik yang kompleks dan berisiko tinggi terhadap gempa dari berbagai sumber, termasuk sesar darat aktif serta zona subduksi dan sumber gempa laut di sekitar Sulawesi. Pemahaman mengenai lokasi dan karakteristik sesar aktif Sulawesi Tengah adalah kunci untuk upaya mitigasi bencana yang efektif.





