KUPANG, NARASITA – Gempa Nagekeo berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15/08, telah memicu 341 kali aktivitas gempa susulan. Dampak Gempa Nagekeo ini menyebabkan 47 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya luka-luka serta kerusakan infrastruktur signifikan di berbagai wilayah NTT.
Berdasarkan pemutakhiran data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Minggu, 16/08, pukul 00.00 WIB, selain korban jiwa, 101 warga dilaporkan mengalami luka-luka. Korban meninggal dunia terbanyak akibat Gempa Nagekeo ini tercatat di Kabupaten Manggarai dengan 23 orang, diikuti Manggarai Timur sebanyak 17 orang.
Korban jiwa lainnya tersebar di Kabupaten Sikka sebanyak empat orang, Manggarai Barat satu orang, Ende satu orang, dan Nagekeo satu orang. Angka ini mencerminkan seriusnya dampak Gempa Nagekeo terhadap populasi.
Kerusakan infrastruktur akibat Gempa Nagekeo juga sangat luas. Sebanyak 914 rumah mengalami rusak berat, 126 rumah rusak sedang, dan 317 rumah rusak ringan di wilayah NTT. Selain itu, 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, serta 38 kantor pemerintahan dilaporkan mengalami kerusakan.
Dampak Gempa Nagekeo turut mengganggu akses transportasi di sejumlah wilayah. Jalur darat Larantuka-Maumere kini sudah dapat dilalui, namun jalur penghubung Ende-Nagekeo masih terputus. Kondisi ini menjadi tantangan besar dalam upaya distribusi bantuan, mobilisasi tim penanganan, dan evakuasi warga terdampak Gempa Nagekeo.
Tim gabungan bersama BPBD masih terus melakukan penyisiran di berbagai lokasi untuk mengidentifikasi data korban dan kerusakan secara akurat. Selain pendataan, pemerintah juga memperkuat layanan kesehatan bagi warga terdampak Gempa Nagekeo dengan mendirikan rumah sakit lapangan di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.
Pemerintah daerah di sejumlah wilayah terdampak Gempa Nagekeo telah menetapkan status kedaruratan guna mempercepat proses penanganan bencana. BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan dan mengikuti arahan petugas selama masa darurat. Data dampak bencana masih bersifat dinamis dan dapat berubah seiring verifikasi lapangan yang terus berlangsung.






