JAKARTA, NARASITA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis Prakiraan Cuaca BMKG harian pada Selasa, 18 Agustus 2026, yang menunjukkan variasi kondisi cuaca di seluruh Indonesia, mulai dari berawan, cerah berawan, hingga potensi hujan ringan dan lebat di beberapa wilayah akibat sirkulasi siklonik.

Laporan BMKG menyebutkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, namun fenomena alam tertentu masih berpotensi memicu hujan. Data Prakiraan Cuaca BMKG ini penting bagi masyarakat untuk merencanakan aktivitas sehari-hari.

Di Kalimantan Timur, sembilan daerah diprakirakan berawan, meliputi Balikpapan, Samarinda, Kutai Kartanegara, Berau, Kutai Barat, Kutai Timur, Penajam Paser Utara, Mahakam Ulu, dan Bontang. Sementara itu, wilayah Paser diprediksi cerah berawan dengan suhu berkisar 20–33°C.

Pulau Bali juga akan mengalami kondisi cuaca yang bervariasi. Badung dan Klungkung berpotensi hujan ringan, dengan suhu 20–30°C dan kelembaban 49–95%. Denpasar diperkirakan berawan dengan suhu 21–30°C, sesuai dengan Prakiraan Cuaca BMKG terbaru.

Kondisi yang berbeda terjadi di Sulawesi Tengah, di mana Palu dan Parigi Moutong diprediksi cerah. Sebanyak 12 wilayah lain di provinsi tersebut diperkirakan berawan, tanpa potensi hujan atau kabut asap.

Secara nasional, BMKG memperingatkan adanya sirkulasi siklonik di Selat Makassar. Fenomena ini berpotensi memicu hujan sedang hingga lebat di sejumlah daerah, termasuk Aceh, Sumatera Utara, Lampung, Jawa Barat, dan Papua Pegunungan. Angin kencang juga diprakirakan terjadi di Aceh, Jawa Timur, Kepulauan Riau, Maluku, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara. Masyarakat dihimbau untuk selalu memantau Prakiraan Cuaca BMKG.

“Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan sedang hingga lebat akibat sirkulasi siklonik di Selat Makassar,” kata BMKG dalam rilisnya pada 17 Agustus 2026.

BMKG juga mencatat bahwa 76,5% wilayah Indonesia, yang mencakup 535 Zona Musim (ZOM), telah memasuki musim kemarau dengan curah hujan rendah atau kurang dari 150 mm per dasarian. Meskipun demikian, potensi hujan lokal masih ada.

“Meski musim kemarau mendominasi, hujan lokal masih berpotensi turun karena aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) dan pola angin,” tambah BMKG dalam rilis sebelumnya pada 14 Agustus 2026, menggarisbawahi kompleksitas Prakiraan Cuaca BMKG.

Analisis BMKG menunjukkan bahwa meskipun Sulawesi Tengah relatif stabil dengan cuaca cerah atau berawan, wilayah Bali serta sebagian Sumatera dan Jawa perlu waspada terhadap hujan ringan. Sirkulasi siklonik di Selat Makassar menjadi faktor utama pemicu hujan lebat regional. Kelembaban tinggi di Bali dan Kalimantan Timur juga menunjukkan potensi awan hujan yang kuat, meskipun musim kemarau telah dominan menurut Prakiraan Cuaca BMKG.