JAKARTA, NARASITA – Wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih terus diguncang Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat total 2.768 kejadian gempa susulan pascagempa utama M7,7. Data ini diperbarui hingga Rabu, 19 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB, mengindikasikan aktivitas seismik yang masih tinggi di kawasan tersebut.

Gempa susulan yang tercatat memiliki rentang magnitudo M1,1 hingga M6,2. Dari ribuan gempa susulan Flores tersebut, sebanyak 24 kejadian memiliki kekuatan di atas M5, dan 81 di antaranya dilaporkan dirasakan langsung oleh masyarakat setempat. BMKG memperkirakan aktivitas gempa susulan ini masih dapat berlangsung sekitar 3–4 minggu setelah gempa utama terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Gempa utama M7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 pukul 04.58.23 WIB berpusat di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, NTT, dengan kedalaman 15 kilometer. Gempa ini memicu peringatan dini tsunami yang kemudian dicabut pada pukul 07.30 WIB di hari yang sama.

Secara kronologis, setelah gempa utama M7,7 pada 15 Agustus, BMKG segera mengeluarkan Peringatan Dini Tsunami. Tsunami terdeteksi di 16 lokasi di empat provinsi, dengan ketinggian tertinggi 1,605 meter di Pota, Manggarai Timur. Sejak saat itu, jumlah gempa susulan terus bertambah secara signifikan. Pada 15 Agustus pukul 14.00 WIB, tercatat 235 gempa. Angka ini melonjak menjadi 1.624 pada 17 Agustus pukul 11.00 WIB, dan mencapai 2.119 pada 18 Agustus pukul 05.00 WIB. Pemutakhiran terakhir pada 19 Agustus pukul 05.00 WIB menunjukkan peningkatan menjadi 2.768 gempa susulan Flores.

Dalam 24 jam terakhir (dari 18 Agustus pukul 05.00 WIB hingga 19 Agustus pukul 05.00 WIB), terjadi penambahan 649 gempa susulan Flores. Artinya, rata-rata ada sekitar 27 gempa susulan per jam dalam periode tersebut. Beberapa gempa susulan yang dirasakan pada 19 Agustus dini hari antara lain M4,7 dan M4,1 di sekitar utara Mbay, Nagekeo, yang dirasakan dengan intensitas III–IV MMI.

Data sementara BMKG per 18 Agustus juga mencatat dampak signifikan akibat gempa utama M7,7. Sebanyak 53 orang meninggal dunia dan 137 orang mengalami luka-luka. Kerusakan bangunan dilaporkan di sejumlah wilayah, seperti Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, dan Maumere, dengan tingkat kerusakan yang bervariasi.

BMKG mengaitkan gempa utama ini dengan aktivitas tektonik di Flores Back-Arc dan memiliki mekanisme sesar naik atau thrust fault. Meskipun peringatan dini tsunami telah berakhir, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap gempa susulan Flores dan menjauhi bangunan yang retak atau rusak. Informasi terkait gempa bumi dan potensi bencana sebaiknya selalu merujuk pada sumber resmi dari BMKG dan pemerintah daerah.