JAKARTA, NARASITA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memaparkan hasil analisis BMKG Kondisi Cuaca Laut di tiga lokasi insiden kapal yang terjadi di perairan Indonesia sepanjang Juli hingga Agustus 2026.

Analisis BMKG Kondisi Cuaca Laut mencakup kondisi cuaca, angin, gelombang, serta arus permukaan laut di lokasi kejadian. Informasi ini digunakan sebagai bahan pendukung dalam koordinasi operasi pencarian dan pertolongan (SAR).

BMKG menganalisis kondisi di lokasi insiden KMP Putri Yasmin di Pantai Sekotong, Lombok; KMP Nurul Salsa di perairan Pulau Kalatoa, Kepulauan Selayar; serta kapal motor penumpang Prince Soya di Pelabuhan Samarinda.

KMP Putri Yasmin

Untuk insiden KMP Putri Yasmin di Pantai Sekotong, perairan Lombok, yang terjadi pada 12/08/2026 sekitar pukul 04.15 WITA, BMKG menganalisis BMKG Kondisi Cuaca Laut berdasarkan citra satelit Himawari.

Berdasarkan citra satelit Himawari pukul 04.00 WITA, kondisi cuaca di sekitar lokasi kejadian secara umum cerah hingga berawan dan tidak terpantau adanya hujan. Angin saat itu sedang dengan kecepatan sekitar 5–15 knot dan bertiup dari arah tenggara.

Tinggi gelombang laut berkisar 2–3 meter yang masuk kategori sedang hingga tinggi. Kondisi arus permukaan laut tercatat lebih kuat, sekitar 2–4 knot atau kategori kencang hingga sangat kencang, bergerak dominan ke arah selatan hingga barat.

KMP Nurul Salsa

Analisis BMKG Kondisi Cuaca Laut berikutnya dilakukan terhadap insiden KMP Nurul Salsa di perairan Pulau Kalatoa, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, pada 15/07/2026 sekitar pukul 11.10 WITA.

Citra satelit Himawari pada pukul 11.00 WITA menunjukkan kondisi cuaca di sekitar lokasi secara umum cerah hingga cerah berawan, tanpa indikasi hujan. Angin saat itu sedang dengan kecepatan sekitar 15–20 knot, bertiup dari arah timur laut hingga timur.

Adapun tinggi gelombang laut berada pada kisaran 1,25–2,5 meter dan termasuk kategori sedang. Untuk arus permukaan laut, BMKG mencatat kecepatan sekitar 0,9–1,6 knot atau kategori kencang, bergerak dominan menuju arah barat daya hingga barat.

Kapal Prince Soya

BMKG juga menganalisis BMKG Kondisi Cuaca Laut saat insiden kapal motor penumpang Prince Soya di Pelabuhan Samarinda, Kalimantan Timur, pada 01/08/2026 sekitar pukul 11.00 WITA.

Berdasarkan citra satelit dan radar cuaca di sekitar Pelabuhan Samarinda, kondisi cuaca saat kejadian secara umum cerah hingga berawan, tidak terpantau adanya hujan. Angin berada pada kategori lemah dengan kecepatan sekitar 4–5 knot dan bertiup dari arah timur hingga tenggara.

Untuk kondisi arus permukaan laut secara umum, BMKG menganalisis kecepatan sekitar 0,6–1,6 knot dengan kategori lemah hingga sedang. Arus bergerak dominan menuju arah barat hingga barat laut. Secara umum, hasil analisis BMKG menunjukkan kondisi cuaca di sejumlah lokasi kejadian didominasi cuaca cerah hingga berawan tanpa hujan.

Informasi mengenai arus, gelombang, angin, dan kondisi cuaca tersebut menjadi salah satu parameter yang digunakan BMKG untuk mendukung perencanaan operasi pencarian dan pertolongan. Dalam penanganan insiden tersebut, BMKG juga memberikan dukungan melalui rapat yang dipimpin Menteri Perhubungan, rapat koordinasi tindak lanjut pencarian dan pertolongan, serta koordinasi dalam operasi SAR gabungan.

“Informasi ini menggambarkan kondisi meteorologi dan oseanografi pada saat, waktu, dan lokasi kejadian, dan tidak dimaksudkan untuk menetapkan penyebab terjadinya kecelakaan,” kata Faisal, Analis BMKG.dikutip dari akun resmi BMKG. 

Faisal menambahkan, analisis yang disampaikan BMKG merupakan gambaran BMKG Kondisi Cuaca Laut pada waktu serta lokasi terjadinya insiden. Penetapan penyebab kecelakaan merupakan kewenangan lembaga yang berwenang.

“Untuk penetapan penyebab kecelakaan, tentunya menjadi kewenangan lembaga yang berwenang, termasuk Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT),” tegas Faisal.