PALU, NARASITA – Sejumlah hewan endemik Sulawesi Tengah dilaporkan berada dalam kondisi sangat terancam punah pada pertengahan 2026. Ancaman ini menimpa spesies ikonik seperti anoa, maleo, kakatua jambul kuning, kera hitam Sulawesi, dan kura-kura hutan Sulawesi, akibat perburuan liar, alih fungsi hutan, serta perdagangan satwa yang tidak terkendali.
Laporan dari berbagai pihak, termasuk Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah dan lembaga konservasi lainnya, menyoroti bahwa kondisi populasi satwa-satwa ini sudah pada tingkat yang sangat kritis. Meskipun perhatian terkini datang pada 03/07/2026, data lapangan sejak 2021-2022 menunjukkan masalah ini bersifat kronis dan belum menemukan solusi efektif.
Kakatua jambul kuning menjadi salah satu contoh paling memprihatinkan dari krisis konservasi di wilayah ini. Satwa ini pernah dilaporkan hanya tersisa sepasang atau dua ekor di Pulau Pasoso, Kecamatan Balaesang, Kabupaten Donggala. Ancaman utamanya adalah perdagangan satwa yang menyasar pasar lokal maupun internasional.
“Tinggal satu pasang dan bisa dibilang kakatua jambul kuning terancam punah,” kata Hasmuni, Mantan Kepala BKSDA Sulawesi Tengah.
Selain kakatua, maleo, burung endemik Sulawesi yang bergantung pada lokasi peneluran spesifik, juga menghadapi tekanan berat. Di kawasan Bakiriang, Kabupaten Banggai, populasi maleo dilaporkan sangat sedikit, bahkan hanya ditemukan dua sampai empat ekor dalam satu hari pengamatan. Ekspansi perkebunan sawit dan perburuan menjadi penyebab utama krisis ini.
Laporan mengenai maleo di Bakiriang menyebut, “Akhirnya, maleo kini berada di ambang kepunahan.”
Anoa, mamalia endemik Sulawesi yang dijuluki “kerbau kerdil”, juga mengalami penurunan populasi yang drastis. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah pada 03/07/2026 memublikasikan materi khusus mengenai anoa sebagai hewan endemik Sulawesi yang terancam punah. BKSDA Sulawesi Tengah bahkan menyatakan bahwa anoa kini makin sulit dijumpai di kawasan konservasi.
“Kini jumlah anoa maupun babi rusa kian berkurang, bahkan kedua endemik Sulawesi ini sulit dijumpai di kawasan konservasi,” kata Hasmuni, mantan Kepala BKSDA Sulawesi Tengah.
Kera hitam Sulawesi atau Macaca nigra juga termasuk dalam daftar hewan endemik Sulawesi Tengah yang rentan. Populasi primata ini di Sulawesi Tengah diperkirakan tidak lebih dari 1.000 ekor di habitat alaminya, menjadikannya sangat rentan terhadap gangguan habitat dan perburuan.
Sementara itu, kura-kura hutan Sulawesi atau Indotestudo forstenii disebut sudah sangat langka dan terancam punah. Yayasan Komiu Sulawesi Tengah menyoroti deforestasi dan perburuan liar sebagai pemicu utama ancaman terhadap reptil ini. Siklus hidupnya yang lambat membuat pemulihan populasi menjadi tantangan besar.
“Saat ini populasi kura-kura hutan atau Indotestudo forstenii sudah sangat langka, sehingga terancam punah kehilangan habitat,” kata Given, Direktur Yayasan Komiu Sulawesi Tengah.
Secara umum, ancaman utama bagi hewan endemik Sulawesi Tengah ini meliputi deforestasi dan alih fungsi lahan yang menyempitkan ruang hidup mereka. Perburuan liar dan perdagangan satwa juga masih menjadi faktor besar, terutama untuk kakatua jambul kuning dan anoa. Hilangnya lokasi peneluran spesifik sangat berbahaya bagi maleo, sementara tekanan industri perkebunan berulang kali disoroti sebagai pemicu krisis.
Dengan populasi yang sudah sangat kecil, risiko perkawinan sedarah (inbreeding) dan kegagalan reproduksi meningkat tajam. Kondisi ini membuat upaya konservasi menjadi sangat mendesak demi menyelamatkan keanekaragaman hayati Sulawesi Tengah dari ambang kepunahan.





