LUK PANENTENG, NARASITA – Destinasi wisata alam Danau Paisupok di Desa Luk Panenteng, Kecamatan Bulagi Utara, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, semakin menarik perhatian wisatawan domestik dan mancanegara. Dikenal sebagai “danau kaca” karena kejernihan airnya yang berwarna biru toska, Danau Paisupok menawarkan pengalaman snorkeling unik di antara ekosistem hutan tropis yang menawan.

Akses menuju Danau Paisupok dapat ditempuh melalui Bandara Syukuran Aminuddin Amir di Luwuk. Dari sana, perjalanan dilanjutkan dengan laut menuju Salakan, lalu darat ke Luk Panenteng. Alternatif rute cepat menggunakan speedboat dari Luwuk memakan waktu sekitar 60–70 menit dengan biaya Rp300.000–Rp700.000 per orang, sudah termasuk makan siang dan aktivitas snorkeling.

Untuk menikmati keindahan Danau Paisupok, pengunjung cukup membayar tiket masuk Rp5.000 per orang. Tersedia juga sewa perahu dayung seharga Rp30.000 dan alat snorkeling Rp50.000. Penginapan lokal, seperti Nata Homestay, menawarkan harga mulai Rp370.000 per malam bagi wisatawan yang ingin menginap dan merasakan suasana hening di sekitar danau.

Kejernihan air di Danau Paisupok memang luar biasa, dengan visibilitas mencapai 10–15 meter. Pemandangan bawah air memperlihatkan pohon-pohon yang tenggelam dan bebatuan dasar, menciptakan pengalaman snorkeling yang berbeda. Ekosistem danau ini didominasi hutan tropis lebat, menjadi rumah bagi burung endemik Sulawesi, serta memiliki karakteristik air tawar bercampur payau.

Sejak Juli 2026, popularitas Danau Paisupok terus meningkat signifikan, didorong oleh promosi masif melalui platform digital seperti Instagram dan TikTok. Peningkatan kunjungan mencapai 35% dibandingkan tahun 2025. Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan telah menetapkan kawasan ini sebagai destinasi eco-tourism berbasis komunitas, dengan perbaikan infrastruktur jalan menuju Luk Panenteng yang terus digencarkan.

“Paisupok adalah aset wisata unggulan Sulawesi Tengah. Kami dorong pengelolaan berbasis komunitas agar manfaat ekonomi langsung dirasakan warga,” kata Mohamad Wahyudi, Kepala Dinas Pariwisata Banggai Kepulauan.

“Airnya jernih sekali, seperti kaca. Snorkeling di sini terasa berbeda karena bisa melihat pohon-pohon tua di dasar danau,” kata Rina, wisatawan asal Makassar (27 tahun).

“Kami menyediakan penginapan sederhana agar wisatawan bisa menikmati suasana hening di sekitar danau,” kata Nata, Pengelola homestay lokal.