PALU, NARASITA – Pagi itu, wildayanti hanya bisa berdiri di balik garis polisi. Dari kejauhan, perempuan ini menyaksikan prarekonstruksi kasus pembunuhan yang merenggut nyawa adiknya, jamil, bersama istrinya, nurhanisa, dan anak mereka yang masih berusia dua tahun.

Prarekonstruksi digelar penyidik satuan reserse kriminal Polresta palu di lokasi kejadian, jalan pdam, kelurahan Duyu, kota Palu, Sulawesi Tengah, kamis pagi, 27 agustus 2026.

Wildayanti mengaku tidak diizinkan masuk ke area prarekonstruksi. Ia hanya dapat melihat dari luar garis polisi, menyaksikan kembali rangkaian peristiwa yang telah mengubah hidup keluarganya untuk selamanya.

Bagi Wildayanti, jamil bukan sekadar seorang adik. Jamil adalah anak bungsu dari tiga bersaudara dan satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga.

Kenangan tentang sosok jamil masih melekat kuat. Di mata keluarga, Jamil dikenal sebagai pribadi yang rajin dan tidak pernah memiliki masalah dengan orang lain.

Wildayanti menuturkan, semasa hidup jamil juga dikenal sangat menyayangi istri dan anaknya. Kehidupan kecil mereka berjalan seperti keluarga pada umumnya, hingga kasus pembunuhan itu datang dan merenggut ketiganya.

Ironisnya, tak lama sebelum peristiwa tragis tersebut, wildayanti dan jamil sempat pulang kampung bersama untuk menengok orang tua mereka.

Pertemuan itu kini menjadi salah satu kenangan terakhir wildayanti bersama adiknya.

Jenazah Jamil dan anaknya dimakamkan di kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Sementara Nurhanisa, yang sempat mendapat perawatan selama 10 hari di rumah sakit sebelum akhirnya meninggal dunia, dimakamkan di kota Palopo.

Tiga makam, tiga kehilangan, dan satu keluarga yang harus belajar menjalani hari-hari tanpa kehadiran mereka.

Polisi menyebut kasus ini dilakukan oleh Aan Kurniawan. Peristiwa tersebut diduga dilatarbe­lakangi sakit hati pelaku terhadap korban.

Bagi keluarga, alasan itu tidak akan pernah mengembalikan Jamil, Nurhanisa, dan anak mereka.

Wildayanti kini hanya menyisakan harapan pada proses hukum. Sebagai kakak korban, ia berharap pelaku mendapat hukuman yang seberat-beratnya sesuai dengan perbuatannya.

Di balik garis polisi pagi itu, Wildayanti mungkin tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi.

Namun dari sana, ia membawa satu hal yang tak akan pernah hilang kenangan tentang seorang adik yang pernah pulang bersamanya menengok orang tua, seorang ayah yang menyayangi keluarganya, dan seorang lelaki yang kini hanya tinggal dalam ingatan.