JAKARTA, NARASITA – Harga pangan strategis di Indonesia per 28 Agustus 2026 menunjukkan tren fluktuatif dengan kenaikan signifikan pada komoditas beras, cabai, dan minyak goreng. Data terbaru menyoroti tekanan inflasi pada kelompok volatile food yang masih terjadi, meski stok pangan secara nasional dilaporkan stabil. Kondisi ini menjadi sorotan utama dalam perkembangan harga pangan 28 Agustus 2026.
Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia mencatat kenaikan harga beras di berbagai kualitas. Beras kualitas bawah I mencapai Rp16.800/kg, naik Rp2.000 dari hari sebelumnya. Sementara itu, beras kualitas medium I juga merangkak naik menjadi Rp18.000/kg. Kenaikan harga gabah kering panen (GKP) di Sumatera Selatan yang jauh di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) menjadi salah satu pemicu melonjaknya harga beras. Perkembangan harga pangan 28 Agustus 2026 ini tentu membebani masyarakat.
Komoditas cabai juga mengalami lonjakan harga yang tajam. Cabai rawit merah mencapai Rp76.100–Rp81.800/kg, dengan kenaikan Rp6.850 dalam sehari. Cabai merah keriting berada di kisaran Rp53.000–Rp61.600/kg. Fluktuasi harga ini perlu diperhatikan mengingat cabai merupakan bumbu dapur esensial dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Harga minyak goreng juga tidak luput dari kenaikan. Minyak goreng curah tercatat Rp17.000/liter, dengan kenaikan Rp248 di Jawa Timur. Sementara itu, minyak goreng kemasan premium dijual Rp22.000/liter. Kenaikan ini turut menyumbang pada tekanan biaya hidup masyarakat yang merasakan dampak dari harga pangan 28 Agustus 2026.
Untuk komoditas protein hewani, ayam potong mencapai Rp38.000–Rp50.000/kg, dengan Sumatera Utara menjadi daerah yang menembus Rp50.000/kg. Telur ayam ras berkisar antara Rp28.860–Rp30.000/kg. Daging sapi murni di Makassar tercatat stabil di Rp120.000/kg.
Konteks makroekonomi menunjukkan inflasi volatile food (VF) melambat menjadi 2,52% (yoy) pada Agustus 2026, dipengaruhi oleh panen cabai dan bawang merah. Namun, inflasi inti bertahan di 2,76%. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau justru memberikan andil deflasi bulanan sebesar 0,26 poin persentase.
Salah satu anomali yang terjadi adalah kelangkaan beras premium kemasan 5 kg di Palembang. Hal ini disebabkan oleh kenaikan harga gabah dan biaya plastik kemasan. Menanggapi lonjakan harga, Gerakan Pangan Murah disiapkan oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Utara menyusul lonjakan harga ayam ras.
Data harga pangan 28 Agustus 2026 ini dihimpun dari pemantauan harga eceran nasional oleh berbagai lembaga, termasuk Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional – Bank Indonesia, Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur, dan Sistem Informasi Harga Pangan LONTARA+ (Makassar). Variasi harga antar daerah dapat terjadi karena faktor distribusi, pasokan lokal, dan kebijakan daerah yang berbeda-beda.






