MOROWALI, NARASITA – PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menggagas Program Praktisi Mengajar, sebuah inisiatif strategis untuk menjembatani kesenjangan antara dunia industri dan akademik. Diluncurkan secara terstruktur pada tahun 2026, program ini menghadirkan para profesional dari kawasan industri sebagai pengajar tamu di berbagai perguruan tinggi mitra, termasuk Politeknik Industri Logam Morowali, demi menghasilkan sumber daya manusia terampil yang siap diserap industri.
Gagasan Program Praktisi Mengajar IMIP sebenarnya telah muncul sejak setahun sebelumnya, ketika sejumlah kampus mulai aktif mengundang praktisi dari IMIP sebagai dosen tamu. Merespons kebutuhan tersebut, Departemen Human Resources PT IMIP mengembangkan mekanisme yang lebih terstruktur dengan menghimpun tenaga pengajar dari berbagai perusahaan di kawasan industri terintegrasi berbasis nikel tersebut.
“Dalam jangka panjang kegiatan Program Praktisi Mengajar ini diharapkan menjembatani kebutuhan dunia industri yang membutuhkan sumber daya manusia kompeten,” kata Trisno Wasito, Head of Learning Center PT IMIP. Ia menambahkan, jika perguruan tinggi mampu menghasilkan lulusan yang memahami kebutuhan industri sejak awal, maka perusahaan tidak perlu lagi mengajarkan seluruh kompetensi dasar ketika karyawan baru mulai bekerja.
Dalam praktiknya, setelah kampus menyampaikan kebutuhan materi, Departemen HR IMIP akan mencari praktisi yang linear dengan bidang tersebut. Selanjutnya, akan dilakukan koordinasi dengan perusahaan dan atasan langsung karyawan untuk memastikan ketersediaan waktu mengajar. Kampus yang berjarak jauh dari Morowali, seperti Makassar atau Palu, biasanya dilayani secara daring, sementara untuk kampus yang lebih dekat seperti Politeknik Industri Logam Morowali (PILM) dilaksanakan pembelajaran tatap muka. Sesi di PILM misalnya, berlangsung selama empat hari, pada 22, 23, 29, dan 30 Juni 2026, dengan berbagai topik di kelas berbeda sesuai bidang keahlian masing-masing praktisi Program Praktisi Mengajar IMIP.
Hingga pertengahan 2026, tercatat 35 karyawan dari berbagai tenant IMIP, antara lain PT QMB New Energy Materials, PT Huayue Nickel Cobalt (HYNC), dan PT Dexin Steel Indonesia (DSI), telah terdaftar sebagai praktisi pengajar. Mereka berasal dari beragam bidang, mulai dari hidrometalurgi, pirometalurgi, laboratorium, pengelolaan limbah, hingga instalasi mesin dan listrik. Dengan begitu, pihak kampus dapat memperoleh praktisi yang relevan sesuai kebutuhan materi ajar, misalnya daur ulang baterai kendaraan listrik atau produksi kokas, berkat Program Praktisi Mengajar IMIP.
“Pengalaman kerja di industri membantu menghubungkan teori dengan praktik di lapangan. Dari pengalaman itu kita dapat memberikan contoh kasus nyata, menjelaskan tantangan yang sering terjadi di industri, serta membagikan pengalaman terkait penyelesaian masalah. Sehingga materi menjadi lebih mudah dipahami dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja,” kata Yohanes Yoseph Deo, dari Departemen Testing Center, Divisi Teknisi Analis Gas dan Cairan, PT TTRI. Ia kerap memaparkan studi kasus dari pengalaman kerjanya sebagai bahan diskusi, sekaligus mendorong mahasiswa memperkuat komunikasi, kerja sama tim, kedisiplinan, kemampuan memecahkan masalah, dan kesadaran K3.
Bagi mahasiswa, kehadiran praktisi memberikan sudut pandang berbeda dari pembelajaran konvensional. Materi pengajaran yang disampaikan pelaku industri lebih rinci dan praktis, serta tidak terlalu kaku memakai teori. Hal ini sangat penting bagi pendidikan vokasi, yang idealnya berkomposisi sekitar 70 persen praktik dan 30 persen teori, sehingga keterlibatan Program Praktisi Mengajar IMIP menjadi kebutuhan alami dalam pembelajaran mahasiswa vokasi.
Bukan hanya menjadi pengajar tamu, Program Praktisi Mengajar IMIP juga membantu penyelarasan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri masa depan. Melalui diskusi selama kegiatan berlangsung, kampus memperoleh gambaran teknologi, peralatan, metode kerja, serta kompetensi yang dibutuhkan industri, yang menjadi masukan bagi pengembangan kurikulum. Masukan dari para Praktisi Mengajar diproyeksikan mulai diolah dalam penyelarasan kurikulum pada semester mendatang, Agustus 2026 hingga Januari 2027.
Program ini juga memberi manfaat langsung bagi karyawan yang bertugas sebagai praktisi. Selain menjadi media bagi yang berminat mengajar, juga memfasilitasi mereka berlatar belakang insinyur dalam memperoleh surat keterangan sebagai syarat kualifikasi sertifikasi profesi Insinyur Profesional Madya (IPM) maupun Insinyur Profesional Utama (IPU) dari Persatuan Insinyur Indonesia. Bagi IMIP, Program Praktisi Mengajar IMIP menjadi bagian dari strategi jangka panjang perekrutan talenta sekaligus dukungan bagi pengembangan SDM lokal dan nasional.
Sebagai bagian dari penguatan relasi industri dan pendidikan tinggi, IMIP juga memberikan beasiswa pendidikan dan kesempatan magang selama satu tahun kepada mahasiswa dari empat institusi vokasi mitra strategis. Mitra tersebut adalah Politeknik Industri Logam Morowali (PILM), Akademi Teknik Industri Makassar (ATI Makassar), Fakultas Vokasi Universitas Hasanuddin pada bidang metalurgi, serta Program D4 Teknologi Rekayasa Instalasi Listrik (TRIL) dan Teknologi Rekayasa Instalasi Mesin (TRIM) Universitas Tadulako, Palu.
Bagi IMIP, keberhasilan Program Praktisi Mengajar bukan hanya diukur dari jumlah kelas yang terlaksana atau banyaknya praktisi terlibat, melainkan ketika mahasiswa memasuki dunia kerja dengan lebih siap, perusahaan memperoleh tenaga kerja kompeten, dan perguruan tinggi menghasilkan lulusan yang semakin relevan dengan kebutuhan industri. Di tengah percepatan hilirisasi mineral dan transformasi industri nasional, IMIP terus memastikan pengalaman industri dan teori akademik tumbuh berdampingan membentuk generasi baru talenta industri Indonesia.





