DONGGALA, NARASITA – Institut Teknologi Bandung (ITB) memperkenalkan Ransel Cerdas Rotan, sebuah inovasi penting dalam upaya mendongkrak keberhasilan regenerasi bibit rotan di Hutan Desa Nupabomba, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Peluncuran teknologi ini dilakukan pada Jumat, 24 Juni 2026, sebagai solusi atas rendahnya tingkat kelangsungan hidup bibit rotan di habitat alami.
Teknologi Ransel Cerdas Rotan atau ITB Smart-Nursery Backpack tersebut dikembangkan untuk mengatasi rendahnya tingkat keberhasilan pertumbuhan bibit rotan. Selama ini, banyak biji rotan yang gagal berkecambah dan rentan terhadap hama serta tekanan lingkungan pada fase awal pertumbuhan.
“Ransel Cerdas untuk Persemaian Rotan Lestari kami rancang sebagai teknologi yang dapat dikendalikan melalui telepon pintar, untuk mengatur sistem sensor secara otomatis. Dengan teknologi ini, masyarakat dan petani rotan dapat berperan langsung membantu proses perkecambahan dan perawatan bibit rotan pada fase kritis selama tiga bulan pertama, langsung dari rumah,” kata Ketua tim pelaksana ITB, Dr. Acep Purqon, Ph.D.
Menurut Acep, tingkat keberhasilan hidup bibit rotan di habitat alami selama ini umumnya tidak melebihi lima persen. Ransel Cerdas Rotan dirancang sebagai unit persemaian portabel yang memiliki kapasitas 50 hingga 100 bibit. Perangkat Ransel Cerdas Rotan ini dilengkapi sistem penyiraman otomatis, sensor kelembapan, lampu ultraviolet (UV), dan pelindung dari hama, memastikan bibit terpantau dan terawat optimal.
Pengembangan program Ransel Cerdas Rotan ini merupakan hasil kolaborasi tim lintas fakultas dari ITB bersama Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Nupabomba. Implementasinya turut melibatkan Pemerintah Desa Nupabomba, komunitas petani rotan, serta PT Bamba Rattan Furniture di Palu sebagai mitra industri.
“Keterlibatan PT Bamba Rattan Furniture sebagai representasi industri kecil dan menengah, memastikan proses transfer pengetahuan berlangsung dari komunitas petani hingga mitra usaha. Dengan demikian, terbentuk alih pengetahuan yang utuh dari hulu hingga hilir,” ujar Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB, Deny Willy Junaidy.
Sebelum diterapkan di Nupabomba, prototipe Ransel Cerdas Rotan dikembangkan menggunakan teknologi pencetakan tiga dimensi (3D printing) di Furniture & Living Lab FSRD ITB. Selanjutnya, perangkat ini dipadukan dengan sistem kendali berbasis aplikasi yang memungkinkan pengoperasian dilakukan melalui telepon pintar. Tim pelaksana program dipimpin oleh Acep Purqon dari FMIPA ITB, dengan anggota Deny Willy Junaidy dari FSRD ITB, serta Prof. Ramadhani Eka Putra dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB.
Model persemaian berbasis konsep “Forest-to-Home” ini diharapkan dapat menjadi alternatif yang efektif dalam mendukung pelestarian hutan dan meningkatkan regenerasi rotan. Selain itu, inisiatif Ransel Cerdas Rotan juga bertujuan memperkuat ekonomi masyarakat di kawasan penghasil rotan melalui keterlibatan langsung dalam proses pembibitan.





