Narasita.com- Jakarta, — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong pasar modal Indonesia berperan lebih strategis dalam mendukung agenda prioritas pemerintah pada 2026. Penguatan dilakukan melalui peningkatan integritas pasar, pendalaman likuiditas, penguatan investor institusi, serta pengembangan ekosistem bursa karbon berstandar internasional.
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan, OJK juga memperkuat perlindungan investor ritel dan minoritas, termasuk melalui pengawasan aspek perilaku pasar dan influencer keuangan (finfluencer). OJK saat ini tengah memfinalisasi aturan finfluencer yang ditargetkan terbit pada pertengahan 2026 dengan penekanan pada kapabilitas, transparansi, dan kepatuhan perizinan.
Mahendra menyampaikan hal tersebut dalam Pembukaan Perdagangan Perdana Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2026 di Jakarta, Jumat (2/1/2026), yang dihadiri pimpinan KSSK dan para pemangku kepentingan pasar modal.
Direktur Utama BEI Iman Rachman mengatakan, BEI telah menyiapkan masterplan pasar modal 2026–2030 dengan target membangun pasar modal yang inovatif, transparan, inklusif, dan berdaya saing global pada 2030.
Sepanjang 2025, pasar modal Indonesia mencatatkan kinerja solid. IHSG menguat 22,13 persen secara year to date ke level 8.646,94, sementara investor asing membukukan net buy Rp 36,23 triliun pada semester II-2025. Jumlah investor pasar modal juga meningkat menjadi 20,2 juta SID, didominasi investor berusia di bawah 40 tahun.
Meski demikian, OJK menilai kontribusi pasar saham terhadap PDB yang mencapai 72 persen masih di bawah sejumlah negara kawasan. Karena itu, OJK menegaskan komitmennya memperkuat sinergi industri guna menjadikan pasar modal sebagai pilar pembiayaan pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.rlis





