GORONTALO, NARASITA –
Operasi SAR Teluk Tomini untuk mencari 13 orang yang hilang kontak bersama kapal perahu mereka memasuki hari kedua pada Sabtu, 25 Juli 2026. Kapal yang membawa 11 wisatawan asing dan 2 awak kapal ini berangkat dari Sanctum Una Una Dive Resort menuju Pelabuhan Marisa pada Jumat, 24 Juli 2026, pukul 07.30 WITA, namun tidak kunjung tiba hingga sore hari, diduga kuat akibat cuaca laut yang ekstrem dengan ombak tinggi dan angin kencang di perairan Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah.
Pencarian intensif dilanjutkan setelah sempat ditunda malam sebelumnya karena kondisi cuaca yang buruk. Tim gabungan berupaya menemukan 13 penumpang yang terdiri dari 11 wisatawan mancanegara asal Belanda, Prancis, dan Jerman, serta dua warga negara Indonesia, Ferdiansyah dan Arif.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Gorontalo mengerahkan 36 personel gabungan yang terbagi dalam tiga Satuan Regu Unit (SRU). Personel dari KPP Gorontalo, Pos SAR Marisa, Polairud, Polres Pohuwato, Lanal Gorontalo, serta tim dari resort terkait turut serta dalam Operasi SAR Teluk Tomini ini.
Alat utama sistem pencarian yang digunakan meliputi KAL Limboto milik TNI AL, RIB 03 Gorontalo, dua speed boat, dan drone thermal yang disiapkan untuk mendeteksi tanda panas tubuh di permukaan laut. Area pencarian diperluas hingga lebih dari 300 mil laut persegi, terbagi dalam beberapa sektor prioritas.
Kondisi cuaca di perairan Teluk Tomini pada hari kedua pencarian dilaporkan cerah, namun gelombang laut masih cukup tinggi, berkisar antara 1,25 hingga 2,5 meter, dengan kecepatan angin 10 hingga 20 knot. Faktor ini menjadi hambatan utama bagi tim SAR dalam melakukan manuver dan observasi secara optimal.
“Kami panik karena kapal biasanya tiba sebelum siang. Begitu tidak ada kabar hingga sore, saya langsung melapor ke Basarnas,” kata Ibu Mimin, Pemandu Wisata, yang menjadi pelapor awal kejadian.
Kepala KPP Gorontalo menegaskan komitmen tim. “Operasi SAR Teluk Tomini melibatkan tiga SRU dengan cakupan pencarian luas. Kendala utama adalah ombak besar dan angin kencang, namun pencarian tetap dilanjutkan secara intensif,” ujarnya.
Potensi risiko bagi para korban, terutama wisatawan asing dengan rentang usia 13 hingga 61 tahun, meliputi hipotermia dan kelelahan akibat paparan laut. Koordinasi lintas instansi menjadi kunci keberhasilan Operasi SAR Teluk Tomini berskala besar ini.
Sebelumnya, sempat beredar informasi keliru mengenai penemuan kapal, namun KPP Gorontalo telah memastikan bahwa berita tersebut tidak benar dan 13 orang korban masih dalam pencarian. Masyarakat diimbau untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi secara resmi.





