BAHODOPI, NARASITA – Aktivitas konsumsi ribuan pekerja Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) telah memicu perputaran uang di Bahodopi, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, mencapai Rp492 miliar setiap bulan atau setara Rp5,9 triliun per tahun per Juli 2026. Data ini menunjukkan bagaimana kehadiran sentra industri nikel tersebut mengubah drastis wajah ekonomi lokal, menciptakan geliat perdagangan dan jasa yang signifikan di wilayah tersebut.

Besarnya perputaran uang di Bahodopi ini tidak terlepas dari pola belanja harian para pekerja yang rata-rata mengeluarkan Rp2,19 juta per orang setiap bulan. Angka ini mencakup kebutuhan esensial seperti makanan, tempat tinggal, transportasi, serta kebutuhan pribadi lainnya. Fenomena ini menciptakan pasar yang sangat dinamis, di mana pelaku usaha lokal mendapatkan keuntungan besar dari tingginya daya beli dan mendorong perputaran uang di Bahodopi.

Sektor hunian menjadi salah satu pendorong utama perputaran uang di Bahodopi. Sebanyak 82,6 persen pekerja IMIP memilih tinggal di kos-kosan atau kontrakan di sekitar kawasan industri, dengan rata-rata biaya sewa mencapai Rp1,26 juta per bulan. Kondisi ini membuat bisnis properti sewaan menjamur dan menjadi sumber pendapatan baru bagi banyak warga setempat, mempercepat perputaran uang di Bahodopi.

Selain hunian, kebutuhan transportasi juga menyumbang signifikan terhadap perputaran uang di Bahodopi. Survei menunjukkan 79,3 persen pekerja rutin mengeluarkan biaya untuk transportasi, baik menggunakan jasa ojek lokal maupun angkutan umum. Hal ini secara langsung menggerakkan sektor jasa transportasi dan memberikan peluang pekerjaan bagi warga.

“Sejak banyak pekerja datang, omzet warung saya naik tiga kali lipat. Tapi harga bahan pokok juga ikut naik,” kata Siti Aminah, pemilik warung makan di Bahodopi.

Perkembangan ekonomi ini juga terlihat dari lonjakan jumlah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang aktif. Tercatat ada 7.643 unit UMKM beroperasi, dengan 78 persen di antaranya adalah usaha mikro dan 22 persen usaha kecil. Mayoritas perputaran uang di Bahodopi diserap oleh UMKM ini, mengingat 57 persen pekerja lebih memilih berbelanja di warung atau kios lokal dibandingkan toko modern.

“Dulu rumah kosong saya tidak laku, sekarang penuh oleh pekerja. Sewa kos jadi sumber utama pendapatan keluarga,” tambah Rahmat, seorang pemilik kos-kosan.

Di sisi lain, perputaran uang yang tinggi ini juga membawa tantangan tersendiri. Warga lokal seperti Nurhayati, seorang ibu rumah tangga, merasakan dampak kenaikan harga kebutuhan pokok. “Pendapatan suami meningkat, tapi biaya hidup juga naik. Sekarang uang belanja bulanan tidak cukup seperti dulu,” ujarnya.

Menanggapi fenomena ini, Bank Indonesia Sulteng menyampaikan pentingnya penguatan sektor perdagangan, logistik, dan UMKM. “Perputaran uang di Bahodopi menjadi sinyal penting untuk memperkuat sektor perdagangan, logistik, dan UMKM agar manfaat ekonomi lebih merata,” kata perwakilan Bank Indonesia Sulteng. Pemerintah daerah bersama otoritas moneter didorong untuk melakukan diversifikasi ekonomi agar Bahodopi tidak hanya bergantung pada industri nikel semata.