Narasita.com- PALU, – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam pembiayaan pembangunan rumah sakit di seluruh Indonesia, termasuk Sulawesi Tengah. Ia menyebut bahwa pembiayaan ideal tidak hanya bersumber dari APBN, tetapi juga mengandalkan kontribusi dari berbagai pihak.
“Semua rumah sakit yang dibangun di kabupaten dan kota itu harus bagi-bagi bebannya. Jadi, ada beban dari daerah, pusat, dan kita juga bisa carikan pinjaman. Kombinasi itu yang terbaik,” kata Budi saat meninjau layanan kesehatan jantung di RSUD Undata , Palu, Jumat (1/8/2025).
Menurut Budi, jika pembiayaan hanya berasal dari pusat, seringkali tidak tercipta rasa kepemilikan dari daerah. Oleh karena itu, ia mendorong agar kepala daerah ikut aktif mengalokasikan anggaran untuk fasilitas kesehatan.
“Kondisi sekarang, kalau kita hanya mengandalkan anggaran Kemenkes, ya terbatas. Tapi saya akan kirim tim untuk bantu cari solusi pendanaan lain agar pembangunan tetap berjalan,” ujarnya.
Menkes juga mengapresiasi Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah yang menjalankan program “Berani Sehat” sebagai bagian dari upaya mencapai visi “Indonesia Emas” 2045.
“Kalau mau Indonesia emas seperti cita-cita Pak Presiden, rakyatnya harus sehat dan pintar. Saya berterima kasih ke Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah yang sudah menjalankan program ini bersama Anwar dan Reni,” kata Budi.
Ia menambahkan bahwa kesehatan merupakan salah satu syarat utama bagi bangsa yang ingin maju. Untuk itu, ia meminta media dan masyarakat ikut menyebarkan informasi soal program cek kesehatan gratis dari pemerintah pusat.
“Kalau masyarakat rutin cek kesehatan dan ketahuan punya gula darah tinggi, tekanan darah tinggi, atau kolesterol, tinggal datang ke puskesmas, dapat obat gratis. Jangan tunggu sampai kena serangan jantung atau stroke,” ujar dia.
Dalam kesempatan tersebut, Menkes mengungkapkan bahwa penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian tertinggi kedua di Indonesia setelah stroke, dengan angka mencapai 250.000 kematian per tahun.
Budi juga menyoroti pentingnya pengembangan layanan bedah jantung pediatrik (anak) di daerah. Ia mengungkapkan bahwa masih banyak bayi yang lahir dengan kelainan jantung bawaan yang berisiko meninggal sebelum usia tiga tahun.
“Kita akan kirimkan pelatihan untuk dokter-dokter muda. Alatnya sudah ada, tinggal tingkatkan keterampilan tenaga medis,” ujarnya.
Budi berharap layanan kesehatan jantung, baik untuk dewasa maupun anak-anak, bisa terus dikembangkan di daerah agar tak perlu semua pasien dirujuk ke kota besar.(dhyl)





