Narasita. Com- PALU, – Festival Film Tengah 2025 akan digelar pada 6–10 Agustus mendatang di Museum Provinsi Sulawesi Tengah, Palu. Mengusung semangat lintas disiplin dan keberagaman bentuk sinema, ajang ini menghadirkan 47 film terpilih dari 197 karya yang masuk, berasal dari 35 kabupaten/kota di Indonesia dan tujuh negara.

Direktur Festival Film Tengah, Ifdhal Permana, menjelaskan bahwa festival ini lahir sebagai respons terhadap dinamika perfilman di Sulawesi Tengah, serta menjadi pengembangan dari Festival Film Pelajar Sulawesi Tengah yang digelar tahun sebelumnya.

“Festival ini bukan hanya ruang pemutaran film, tapi juga ruang dialog antara pembuat, penonton, dan komunitas. Kami memandang film sebagai praktik budaya dan pengalaman artistik yang bisa menjembatani pemahaman sosial,” ujar Ifdhal dalam jumpa pers di Sekretariat Yayasan Sinema Mandiri Sinekoci, Palu, Sabtu (2/8/2025).

Direktur Artistik Festival, Taufiqurahman Kifu, menekankan bahwa Festival Film Tengah hadir untuk memperluas pemaknaan terhadap film. Festival ini menampilkan karya dengan bentuk-bentuk non-konvensional, seperti video art, performance video, film eksperimental, hingga karya audiovisual berbasis game dan animasi.

“Film yang kami putar tidak terbatas pada narasi konvensional. Ada yang hanya menggunakan suara, ada yang menafsir ruang hidup atau identitas lintas negara. Ini bagian dari praktik perluasan sinema yang kami sebut dalam program EkspanSinema,” kata Taufiq.

Sementara itu, Manajer Festival, Sarah Adilah, menjelaskan bahwa semangat lintas disiplin yang diusung juga mencerminkan karakter komunitas film di Sulawesi Tengah. “Di sini pembuat film tidak mengotak-ngotakkan dirinya: bukan hanya pembuat fiksi, dokumenter, atau art film. Semuanya cair. Festival ini memberi ruang bagi mereka—dari pelajar, mahasiswa, hingga umum—untuk berbagi karya dan berdiskusi,” ujarnya.

Festival Film Tengah 2025 menyelenggarakan dua kategori kompetisi: umum dan pelajar. Sebanyak 38 film dari berbagai kabupaten/kota di Sulawesi Tengah masuk dalam kompetisi umum, sementara 14 film tercatat dalam kompetisi pelajar.

Dari total tersebut, telah terpilih enam finalis di kompetisi umum dan empat di kompetisi pelajar. Penilaian dilakukan oleh tiga juri nasional, yakni Lulu Ratna (peneliti dan pengorganisir festival film), Kozy Rizal (filmmaker asal Makassar), dan Manshur Zikri (kurator dan seniman dari Forum Lenteng).

Sarah menambahkan bahwa kriteria penjurian berfokus pada dua aspek utama: pencapaian bentuk artistik dan keterkaitan karya dengan konteks lokal. “Kami mencari film yang tidak hanya kuat secara estetika, tetapi juga mampu membaca gejala sosial dan budaya di sekitarnya,” ujarnya.

Programmer Festival Film Tengah, Adi Atmaja, menyebutkan bahwa terdapat tujuh program pemutaran (screening) yang akan berlangsung selama festival. Dua di antaranya memutar film kompetisi, sementara lima lainnya merupakan hasil kurasi dari submisi non-kompetisi.

“Setiap program menawarkan pengalaman menonton yang berbeda—ada yang mengeksplorasi ruang hidup, identitas lintas batas, dan narasi personal, baik dari dalam maupun luar negeri,” jelas Adi.

Program ini, lanjut Adi, menjadi upaya kuratorial untuk memperluas diskursus mengenai film dan audiovisual, khususnya di tengah keterbatasan infrastruktur dan akses informasi di wilayah timur Indonesia.

Nama “Festival Film Tengah” sendiri bukan sekadar merujuk pada posisi geografis. Menurut Ifdhal, istilah “Tengah” dipilih sebagai sikap artistik: tidak berpihak pada pakem tertentu, tidak terjebak dalam identitas administratif, dan membuka kemungkinan-kemungkinan baru.

“Kami ingin menghadirkan film sebagai sesuatu yang berada di antara. Tidak sentralistik, tidak dikotakkan. Kami merayakan dinamika, perubahan, dan peluang yang lahir dari ruang-ruang batas,” ujar Ifdhal.

Adi menambahkan bahwa penamaan ini lahir dari proses diskusi panjang bersama komunitas film dari berbagai kabupaten di Sulawesi Tengah.

“Kami ingin membicarakan film dari posisi yang lentur, terbuka terhadap ragam bentuk, tanpa dibatasi oleh narasi dominan atau pusat-pinggiran,” katanya.

Meski mengakui kualitas teknis karya dari Sulawesi Tengah belum sepenuhnya optimal, penyelenggara festival meyakini bahwa potensi lokal tetap layak diangkat. “Kita tidak harus mengikuti standar produksi film arus utama. Justru keterbatasan bisa menjadi kekuatan, mendorong eksplorasi gaya bercerita yang lebih segar dan kontekstual,” ujar Ifdhal.

Festival Film Tengah 2025 diharapkan menjadi ruang pertemuan, belajar, dan kolaborasi bagi para pembuat film dari berbagai latar. Dengan pendekatan yang terbuka dan interdisipliner, festival ini membawa semangat baru dalam melihat film bukan semata produk industri, melainkan sebagai praktik budaya yang hidup dan terus tumbuh.