Narasita. Com-Donggala- Sejumlah siswa di SDN 10 Sojol, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, terpaksa menyeberangi sungai menggunakan rakit kecil untuk berangkat sekolah setelah jembatan penghubung di wilayah mereka putus.

Kondisi tersebut terjadi di Dusun 7 Bontopangi, Desa Tonggolobibi, Kecamatan Sojol. Putusnya jembatan membuat akses utama menuju sekolah tidak dapat dilalui, sehingga warga harus mencari cara alternatif agar anak-anak tetap bisa mengikuti kegiatan belajar.

Salah seorang wali murid, Rismayanti, mengatakan sejak jembatan rusak, anak-anak terpaksa menggunakan rakit sederhana untuk menyeberangi sungai setiap hari.

“Sejak jembatan putus, anak-anak kami harus melewati rakit kecil ini untuk ke sekolah,” ujarnya.

Menurutnya, sebelum jembatan putus, siswa biasanya menggunakan mobil bak terbuka (open cup) dengan biaya sekitar Rp5.000 per anak. Namun bagi keluarga kurang mampu, rakit tetap menjadi pilihan. Saat kendaraan tidak beroperasi—misalnya ketika sopir pergi ke Palu—semua siswa menggunakan rakit dengan tarif Rp3.000 untuk perjalanan pergi dan pulang.

Setelah menyeberang sungai, para siswa masih harus berjalan kaki sekitar dua kilometer menuju sekolah. Tersedia jalur alternatif darat, tetapi jaraknya memutar hingga sekitar 13 kilometer sehingga sulit ditempuh setiap hari.

Para orang tua biasanya mengantar anak hingga ke tepi sungai setiap pagi. Sebagian menunggu sampai anak menyeberang, sementara lainnya hanya mengantar sampai bibir sungai sebelum anak melanjutkan perjalanan sendiri.

Rismayanti mengaku khawatir terhadap keselamatan anak-anak, terutama karena mereka menyeberang secara berkelompok di atas rakit kecil. Selain risiko terjatuh, sungai tersebut juga dilaporkan memiliki buaya dan pernah terjadi insiden warga hanyut.

Pihak sekolah, kata dia, telah memberikan keringanan dengan menyesuaikan kehadiran siswa, terutama saat hujan deras atau banjir. Dalam kondisi tertentu, siswa diperbolehkan tidak masuk sekolah demi keselamatan.

Warga bersama pemerintah desa sebelumnya telah menggelar rapat untuk membahas kerusakan jembatan. Namun perbaikan membutuhkan anggaran besar sehingga masyarakat diminta bersabar menunggu realisasi pembangunan.

Masyarakat dan wali murid berharap pemerintah segera membangun kembali jembatan atau setidaknya memperbaiki kerusakan yang ada, mengingat jalur tersebut merupakan akses utama bagi siswa SD maupun SMP menuju sekolah.

“Harapan kami jembatan baru bisa segera dibangun atau minimal diperbaiki, karena itu satu-satunya akses anak-anak ke sekolah,” kata Rismayanti.ist