Narasita.com- PALU, — DPD IMM Sulteng bersama Komunitas Study Ekologi dan DPD IMM DIY menyoroti rencana pembangunan kolam limbah (tailing) dan tambang bawah tanah milik PT Citra Palu Mineral di Kelurahan Poboya, Kota Palu. Rencana tersebut dinilai berisiko karena berada di kawasan yang beririsan dengan jalur aktif Sesar Palu-Koro.
Sorotan itu mengemuka dalam forum diskusi kelompok terpumpun (focus group discussion/FGD) yang digelar secara kolaboratif pada 10 Februari 2026.Para peserta diskusi menilai, keberadaan fasilitas tambang di zona rawan gempa berpotensi menimbulkan dampak serius jika terjadi aktivitas seismik.
Sesar Palu-Koro sebelumnya menjadi pemicu gempa bumi dan tsunami yang melanda Sulawesi Tengah pada 28 September 2018. Bencana tersebut menyebabkan likuefaksi di sejumlah wilayah, termasuk Balaroa dan Petobo, serta menimbulkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa dalam jumlah besar.
Dalam hasil diskusi, peserta menyoroti risiko kegagalan struktur kolam limbah apabila terjadi gempa atau pergerakan tanah. Kebocoran kolam dinilai berpotensi mencemari tanah dan sumber air di sekitarnya.
Selain itu, rencana aktivitas tambang bawah tanah di kawasan dengan riwayat likuefaksi juga dikhawatirkan memperparah ketidakstabilan geologi. Kombinasi ancaman gempa, longsor, dan limpasan limbah tambang disebut dapat memicu krisis lingkungan berkepanjangan di Palu.
Ketua umum dpd IMM Sulteng Adityawarman menegaskan bahwa pembangunan ekonomi harus mempertimbangkan aspek
“Belajar dari peristiwa 2018, fasilitas berisiko tinggi tidak semestinya ditempatkan di jalur sesar aktif tanpa mitigasi yang ketat,” ujarnya.
Forum tersebut merekomendasikan perlunya kajian risiko bencana secara komprehensif dan transparan, serta pelibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan terkait proyek pertambangan di wilayah rawan bencana.





