Narasita.com-Morut,Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Morowali Utara mengakui jika berhentinya aktivitas perusahaan tambang, telah berdampak ke perekonomian daerah.

“Berhentinya aktivitas perusahaan berdampak pada pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan,” kata anggota DPRD Morut Arman Purnama Marunduh dihubungi, Minggu.

Dia menjelaskan ketika terjadi PHK, perekomian langsung lumpuh. Contohnya, kos-kosan menjadi kosong, daya beli masyarakat menurun hingga lesunya usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Lanjut dia, UMKM daerah lingkar tambang seperti Bunta, Tompira hingga Bungintimbe, sangat bergantung pada perputaran uang dari karyawan.

Namun realitasnya, gaji karyawan hanya cukup untuk kebutuhan dasar, seperti sewa tempat tinggal atau kos, biaya keluarga, sampai transportasi.

“Hampir tidak ada sisa untuk konsumsi di luar. Akibatnya, banyak UMKM yang tutup,” ujarnya.

Sisi lain, dia juga menyoroti kurangnya kontribusi perusahaan dan industri tambang nikel terhadap pendapatan daerah.

“Pendapatan asli daerah hanya sekitar Rp240 miliar, berbeda dengan Kabupaten Morowali yang pendapatan daerahnya lebih dari satu triliun. Padahan objek dan industrinya relatif sama,” ungkapnya.

Pernyataan Erwin Marunduh itu menguatkan cerita dari sejumlah pelaku UMKM dari lingkar tambang di Morowali Utara.

“Saat ini, UMKM sekitar tambang hidup dari aktivitas karyawan di perusahaan,” kata Pedagang ayam potong Muhammad Arif di Desa Towara, Kecamatan Petasia Timur, Morowali Utara.

Dia menceritakan usaha penjualan ayam potong yang telah dilakoninya beberapa waktu terakhir, sangat terdampak akibat PHK karyawan perusahaan tambang.

Sebelum adanya PHK, dia mampu menjual 10-15 ekor ayam potong setiap hari dengan harga Rp75 ribu per ekor. Sementara, pasca PHK besar-besaran, dia hanya mampu menjual 1-2 ekor per hari, itu pun dengan harga Rp70 ribu per ekor.

“Usaha saya sudah enam tahun, tapi enam bulan terakhir akhirnya tutup karena tidak adanya pembeli,” kata Carolina, pedagang buah, sayur, dan rempah di Desa Towara.

Dia menjelaskan, penyebab utamanya adalah berkurangnya karyawan perusahaan dan daya beli masyarakat menurun drastis. Dulu, saat kondisi masih ramai, pendapatan per hari bisa mencapai sekitar Rp2–3 juta, dengan keuntungan bersih sekitar Rp500 ribu.

“Perusahaan tutup, usaha juga ikut tutup,” ujarnya.

Dia mengungkapkan usaha lain yang turut terdampak adalah layanan jasa makanan minuman (catering), yang dipasok ke dalam perusahaan.rls