PALU, NARASITA – Save the Children Indonesia bersama Cargill menggelar Workshop Pembelajaran Program EMPOWER bertajuk “Membangun Masa Depan Kakao Berkelanjutan: Sinergi Lintas Sektor untuk Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Komunitas di Sulawesi” di Hotel Best Western Palu, Kamis (20/08). Workshop ini menjadi forum penting untuk berbagi pengalaman setelah Program EMPOWER berjalan sejak 2021 di empat kabupaten, yaitu Poso (Sulawesi Tengah) serta Bone, Soppeng, dan Wajo (Sulawesi Selatan). Kegiatan ini berfokus pada pembangunan ekosistem perlindungan anak dan penguatan ekonomi keluarga petani.

Berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, hingga pelaku rantai pasok kakao, hadir dalam workshop tersebut. Pembahasan utama diarahkan pada bagaimana Program EMPOWER dapat membangun ekosistem perlindungan anak sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi keluarga petani di wilayah tersebut.

Senior Manager Agriculture Portfolio Lead Save the Children Indonesia, Ihwana Mustafa, menyatakan bahwa Program EMPOWER telah memasuki tahun terakhir setelah berjalan selama enam tahun dalam dua fase dukungan Cargill. Menurutnya, program ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan produktivitas kakao, tetapi juga memastikan komoditas tersebut dihasilkan melalui rantai pasok yang bertanggung jawab terhadap aspek sosial dan lingkungan.

“Masyarakat dunia sekarang ingin mengonsumsi kakao yang dihasilkan oleh orang-orang yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sosialnya. Mereka tidak mau mengonsumsi kakao yang dihasilkan anak-anak dengan harus meninggalkan sekolah,” kata Ihwana.

Ihwana menjelaskan, salah satu capaian signifikan Program EMPOWER adalah penguatan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM). Selama program ini berlangsung, sebanyak 745 isu perlindungan anak berhasil ditangani. Isu-isu tersebut meliputi anak putus sekolah, persoalan akta kelahiran, pekerja anak, hingga akses perlindungan sosial, menunjukkan dampak positif Program EMPOWER.

Selain itu, Program EMPOWER telah menjangkau lebih dari 14 ribu petani dan lebih dari 20 ribu anggota masyarakat. Sebanyak 53 kelompok Village Savings and Loan Association (VSLA) juga terbentuk dengan lebih dari 700 anggota. Dari kelompok-kelompok tersebut, tercatat tabungan masyarakat mencapai sekitar Rp2,4 miliar. Dana ini kemudian dipinjam kembali untuk kebutuhan produktif, terutama pertanian, pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan rumah tangga.

Ihwana menambahkan bahwa Program EMPOWER juga mendorong peningkatan pendapatan rumah tangga. Berdasarkan studi yang dilakukan, rata-rata pendapatan keluarga penerima manfaat Program EMPOWER meningkat signifikan dari sekitar Rp1,6 juta menjadi Rp3,4 juta per bulan.

Kerentanan anak di sektor perkebunan menjadi salah satu alasan utama Program EMPOWER dijalankan. Anak-anak dinilai berisiko tinggi mengalami eksploitasi dan kekerasan ketika terlibat dalam aktivitas perkebunan tanpa perlindungan yang memadai. Dalam pelaksanaannya, Program EMPOWER berhasil mengidentifikasi lebih dari 1.000 anak di empat kabupaten, dengan lebih dari 100 anak teridentifikasi sebagai pekerja anak.

Anak-anak yang ditemukan terlibat dalam pekerjaan kemudian mendapatkan intervensi melalui edukasi mengenai hak anak dan upaya pengembalian mereka ke jalur pendidikan. Masyarakat juga dilibatkan melalui kelompok PATBM, yang berperan mengidentifikasi persoalan anak, mengelola informasi, dan merujuk kasus kepada lembaga berwenang. Kasus yang ditemukan tidak hanya berkaitan dengan pekerja anak, tetapi juga persoalan akta kelahiran, akses pendidikan, dan pemenuhan hak anak lainnya.

Penanganan kasus selanjutnya dilakukan bersama instansi terkait, seperti Dinas Sosial dan lembaga perlindungan anak. Cargill juga turut memberikan dukungan agar anak-anak yang sebelumnya bekerja dapat kembali bersekolah, termasuk penyediaan perlengkapan belajar sebagai bagian dari Program EMPOWER.

“Program ini tidak sepenuhnya melarang anak membantu orang tua di kebun. Namun, aktivitas tersebut harus memperhatikan keselamatan dan tumbuh kembang anak. Anak tidak boleh terlibat dalam pekerjaan yang bersentuhan dengan bahan kimia berbahaya, seperti mencampur pupuk atau racun. Mereka juga harus dijauhkan dari penggunaan alat tajam dan peralatan kerja berisiko.”Jelasnya.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Cargill melalui rantai pasoknya memberikan dukungan berupa penggantian alat kerja dengan peralatan yang lebih aman bagi anak. Dengan demikian, anak tetap dapat belajar mengenal aktivitas perkebunan bersama orang tua, tetapi tidak ditempatkan pada pekerjaan yang membahayakan keselamatan dan kesehatan mereka. Implementasi Program EMPOWER secara menyeluruh memperhatikan kesejahteraan anak.

Sementara Director Humanitarian and Program Operations Save the Children Indonesia, Fadli Usman, menjelaskan bahwa Program EMPOWER merupakan kolaborasi Save the Children dan Cargill untuk mendorong terciptanya ekosistem perkebunan kakao yang aman bagi anak di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. Program ini berfokus pada pencegahan pekerja anak, pernikahan dini, serta penguatan perlindungan hak anak di wilayah perkebunan kakao.

“Tujuan utama adalah perlindungan anak. Tetapi kami melihat aset terbesar masyarakat adalah kakao. Program ini pemberdayaan masyarakat. Kita gerakkan ekosistem mulai dari Cargill, pemerintah hingga kelompok-kelompok masyarakat,” jelas Fadli.

Fadli menambahkan, Program EMPOWER berupaya mencegah pekerja anak dan perkawinan dini. Ia berharap, berakhirnya dukungan program tidak menghentikan praktik baik yang telah dibangun. Keberlanjutan PATBM, kelompok simpan pinjam, literasi keuangan, dan pemberdayaan petani muda diharapkan terus berjalan secara mandiri. “Program memang selesai, tetapi edukasi tetap berjalan. Masyarakat yang melanjutkan program secara mandiri itulah yang menjadi ukuran bahwa edukasi kami berhasil,” pungkas Fadli.