BANGGAI, NARASITA – Kekeringan Banggai yang parah melanda Kecamatan Masama dan Lamala, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, sejak Juli hingga September 2026. Kondisi ekstrem ini mengakibatkan pasokan air bersih menurun drastis dan mengganggu layanan PAM serta kebutuhan sehari-hari masyarakat yang terdampak kekeringan Banggai ini.
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banggai kepada BPBD Sulawesi Tengah pada Rabu (16/9/2026) pukul 21.10 WITA, total 19.885 jiwa menghadapi keterbatasan air bersih akibat kekeringan Banggai di dua kecamatan tersebut.
Di Kecamatan Masama, kekeringan Banggai ini berdampak pada 12.516 jiwa yang mengalami kesulitan air bersih. Sebanyak 14 desa di kecamatan ini juga terdampak keterbatasan pasokan air PAM, memperparah kondisi kekeringan Banggai.
Dari 14 desa yang terdampak kekeringan Banggai di Masama, 13 desa berpotensi mengalami gagal panen karena kurangnya pengairan sawah. Lahan persawahan di Desa Tangeban seluas 52 hektar dan di Desa Serese seluas 38 hektar kini terancam gagal panen.
BPBD melaporkan bahwa pengairan sawah di Kecamatan Masama harus dilakukan secara bergiliran. Penurunan debit sumber air selama kemarau panjang menjadi penyebab utama kondisi kekeringan Banggai yang serius ini.
Sementara itu, di Kecamatan Lamala, kekeringan Banggai telah menyebabkan 7.369 jiwa terdampak keterbatasan air bersih. Warga di sejumlah wilayah mengandalkan sumur, namun sebagian besar menghasilkan air keruh dan asin.
Beberapa warga bahkan terpaksa membuat sumur baru karena sumber air yang ada tidak lagi mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari di tengah kekeringan Banggai ini. Ancaman gagal panen juga menghantui Kecamatan Lamala, dengan sekitar 127 hektar sawah terdampak di Desa Kota Baru, 109 hektar di Desa Baruga, dan 9 hektar di Desa Bahari Makmur.
Hingga laporan ini disusun, kondisi kekeringan Banggai masih berlangsung, dan ketersediaan air bersih di kedua kecamatan tetap terbatas. BPBD Sulawesi Tengah bersama BPBD Kabupaten Banggai telah melakukan asesmen dan koordinasi untuk penanganan dampak kekeringan Banggai ini.
Kebutuhan mendesak yang diperlukan masyarakat terdampak meliputi air bersih dan tandon atau penampungan air sementara. Sejauh ini, tidak ada laporan mengenai pengungsi atau korban jiwa akibat kekeringan Banggai yang melanda wilayah tersebut.





