MOROWALI, NARASITA – Meidi Yurianti Mangkasa, seorang analis kimia di PT TTRI yang berlokasi di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), berhasil merintis usaha hidroponik modern bernama Mey Farm Hidroponik di Desa Makarti, Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah. Aktivitas sampingan ini menunjukkan sisi lain dari para karyawan IMIP hidroponik yang tak hanya berdedikasi di lingkungan kerja, tetapi juga inspiratif di bidang lain.

Di sela kesibukannya menganalisis sampel material ore di laboratorium, Meidi bertransformasi menjadi petani, pengelola usaha, sekaligus konten kreator di kebun hidroponiknya. Perjalanan Meidi menjadi petani hidroponik berawal dari keinginannya untuk menanam sendiri di balkon kosnya di Desa Labota.

“Kalau mau untung lebih, memang harus korban waktu,” kata Meidi, saat dijumpai di green house miliknya, kemarin.

Karyawan IMIP ini awalnya hanya menanam berbagai tanaman menggunakan polibag dan tanah subur. Kepuasan memanen hasil tanamannya sendiri mendorongnya untuk mencoba menjual selada hasil panen melalui media sosial. Penjualan perdana selada seharga Rp5.000 per tanaman ini membukakan matanya terhadap potensi bisnis. Ia mulai mencari tahu target pasar di Bahodopi, meliputi restoran, usaha burger, kebab, hingga berbagai usaha kuliner.

Maret 2023, Meidi membangun green house yang lebih serius, dan panen pertama dilakukan pada Mei 2023. Proses pembibitan tanaman hidroponik di Mey Farm dimulai dengan konsentrasi nutrisi 500–600 ppm. Setelah sekitar 10 hari, tanaman dipindahkan ke tahap remaja dengan konsentrasi 800–900 ppm selama 17–20 hari. Kemudian, tanaman memasuki meja dewasa dengan konsentrasi 1.000–1.200 ppm hingga siap panen pada usia sekitar 40 hari.

Meidi memilih menciptakan ruang hijau melalui budidaya hidroponik bukan hanya untuk keuntungan, tetapi juga sebagai bentuk kontribusi. Ia berharap usahanya dapat menyumbangkan sedikit oksigen di kawasan industri IMIP, khususnya Bahodopi. Kini, Mey Farm Hidroponik sedang memperluas kapasitas produksi dan berencana merekrut masyarakat sekitar Bahodopi, membuka lapangan pekerjaan baru. Meidi menyadari pentingnya memiliki sumber penghasilan lain selain sebagai karyawan IMIP hidroponik, dan hidroponik menjadi ruang relaksasi baginya.

Uniknya, Meidi memanfaatkan ilmu kimia yang ia miliki dan ketelitian yang dilatih di laboratorium sebagai modal dalam mengembangkan Mey Farm. Hobi menanam menjadi pintu masuk, dan media sosial digunakan sebagai alat pemasaran yang efektif.

“Saya harus ngonten biar orang tahu saya jual selada,” ujar Meidi.

Eka Oktavia, salah satu konsumen dan pemilik Frozen Food Bahomakmur, mengakui kualitas selada dari Mey Farm Hidroponik. “Rasa seladanya tidak pahit, ukurannya besar dengan harga terjangkau, Rp10.000/pohon. Kemasannya proper, bisa tahan hingga 10 hari dalam lemari pendingin,” kata Eka Oktavia.