Narasita.com- JAKARTA, — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) Indonesia tetap terjaga, meski perekonomian global tengah menghadapi dinamika dan volatilitas yang tinggi. Hal ini disampaikan dalam konferensi pers daring hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK, Jumat (9/5/2025).

Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang meningkat sejak April 2025 turut memicu lonjakan volatilitas pasar keuangan internasional. Rencana penerapan tarif impor resiprokal oleh AS, meskipun ditunda 90 hari oleh Presiden Donald Trump, tetap mendorong ketidakpastian ekonomi global.

Lembaga-lembaga global seperti IMF, Bank Dunia, dan WTO telah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia.

IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global 2025 sebesar 2,8%, lebih rendah dari rata-rata historis 3,7%. WTO bahkan memperkirakan volume perdagangan barang global tahun ini terkontraksi 0,2%.

Sementara itu, ekonomi AS menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Meski pasar tenaga kerja masih solid, inflasi, kepercayaan konsumen, dan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2025 melambat. Pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan turun dari 2% menjadi 1,4%. Pasar pun mengantisipasi pemangkasan suku bunga acuan The Fed mulai Juni 2025.

Di Tiongkok, pertumbuhan ekonomi tetap solid pada kuartal I-2025, ditopang kinerja manufaktur dan strategi percepatan ekspor. Meski permintaan domestik masih lemah, ada indikasi perbaikan melalui peningkatan inflasi inti dan penjualan ritel.

Ekonomi Indonesia Tumbuh Moderat

Di dalam negeri, ekonomi Indonesia tumbuh 4,87% pada kuartal I-2025, ditopang konsumsi rumah tangga yang stabil. Inflasi April 2025 tercatat 1,95% secara tahunan (year on year/yoy), dengan inflasi inti 2,5% yoy.

Beberapa indikator ekonomi menunjukkan pemulihan moderat, seperti penjualan ritel, semen, dan kendaraan bermotor. Surplus neraca perdagangan berlanjut, dan kinerja emiten di pasar modal menunjukkan perbaikan dibandingkan 2023.

Pasar saham domestik sempat tertekan akibat tensi dagang global, namun berhasil menguat 3,93% secara bulanan (month to date/mtd) ke level 6.766,8 pada 30 April 2025. Kapitalisasi pasar mencapai Rp11.705 triliun, naik 5,20% mtd. Meski demikian, investor asing mencatat net sell Rp20,79 triliun mtd.

Pasar obligasi menunjukkan penguatan. Indeks ICBI naik 1,61% mtd, sementara rata-rata yield Surat Berharga Negara (SBN) turun 15,53 basis poin (bps) mtd. Investor asing mencatatkan net buy Rp7,79 triliun mtd.

Penghimpunan Dana Tetap Solid

Di sisi penggalangan dana, nilai Asset Under Management (AUM) per April 2025 tercatat Rp821 triliun, naik 1,01% mtd. Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana mencapai Rp502,10 triliun, naik 1,66% mtd.

Sepanjang tahun, penghimpunan dana di pasar modal mencapai Rp56,06 triliun, termasuk Rp3,31 triliun dari enam emiten baru. Saat ini terdapat 85 pipeline Penawaran Umum dengan nilai indikatif Rp70,54 triliun.

Securities Crowdfunding (SCF) juga terus tumbuh, dengan 18 penyelenggara berizin, 805 penerbitan efek, dan total dana dihimpun Rp1,53 triliun. Sementara itu, di bursa karbon tercatat 112 pengguna jasa, volume transaksi 1,59 juta ton CO₂e, dan nilai transaksi Rp77,92 miliar.

Pada pasar derivatif keuangan, hingga 30 April 2025 tercatat 56 pelaku dan enam penyelenggara berizin, dengan total volume transaksi 1,13 juta lot dan nilai transaksi Rp1.050,58 triliun.