JAKARTA, NARASITA – Bank Dunia secara resmi mengumumkan penghentian seluruh pinjaman ke China mulai tahun 2031, menandai pergeseran fokus pembiayaan global. Bersamaan dengan itu, perbankan global kini bersiaga tinggi menghadapi ancaman siber berbasis AI canggih yang berpotensi menyebabkan penutupan sementara layanan ATM dan mobile banking untuk melindungi dana nasabah.

Keputusan Bank Dunia ini berlaku setelah kerangka kerja kemitraan negara (Country Partnership Framework/CPF) berakhir pada 2031. Langkah ini diambil karena China telah tumbuh menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia, sehingga dianggap tidak lagi membutuhkan pembiayaan besar. Hubungan antara Bank Dunia dan China akan bertransformasi menjadi kemitraan berbagi pengetahuan, inovasi, serta bantuan teknis.

Hingga 2031, Bank Dunia akan menyalurkan maksimal USD 2 miliar melalui IBRD. Ini merupakan penurunan signifikan dari USD 2,4 miliar pada 2017 dan diproyeksikan menjadi USD 750 juta pada 2025. Pergeseran strategi Bank Dunia ini menandai era baru dalam hubungan keuangan internasional.

“Fokus baru kami adalah pada pertumbuhan berkelanjutan, penciptaan lapangan kerja, ketahanan sosial, dan ekonomi rendah karbon,” kata Anna Bjerde, Managing Director of Operations Bank Dunia.

Di sisi lain, dunia perbankan global sedang dihadapkan pada ancaman siber baru yang serius, yaitu model AI canggih bernama Claude Mythos dari Anthropic. Model AI ini disebut mampu mendeteksi ribuan celah keamanan dalam hitungan detik, meningkatkan risiko serangan peretas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ancaman AI perbankan ini menjadi perhatian utama.

Jika dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab, sistem keamanan perbankan seketat apa pun bisa jebol. Dalam skenario darurat, layanan vital seperti ATM dan mobile banking berpotensi ditangguhkan sementara demi keamanan dan perlindungan dana nasabah dari ancaman AI ini. Regulator seperti Asosiasi Perbankan Jepang dan OSFI Kanada telah mengeluarkan peringatan resmi terkait risiko pada ATM dan mobile banking.

“Layanan tertentu seperti jaringan ATM bisa saja ditangguhkan secara proaktif. Ini murni langkah darurat demi memitigasi risiko dan melindungi aset nasabah,” kata Masahiko Kato, Ketua Asosiasi Perbankan Jepang.

Alarm serupa juga telah disuarakan oleh otoritas perbankan di Amerika Serikat, Inggris, dan Hong Kong, menunjukkan bahwa ancaman siber berbasis AI ini adalah isu global. Kesiapan bank global menghadapi tantangan ini menjadi krusial untuk menjaga stabilitas sistem keuangan.