NARASITA.COM, PALU — Kota Palu menjadi salah satu titik penting dalam peta promosi film Pelangi di Mars. Lewat agenda nonton bareng (nobar) yang digelar Kamis (19/3/2026), film bergenre fiksi ilmiah ini langsung mencuri perhatian dan menghadirkan atmosfer berbeda di bioskop.
Sejak awal acara, penonton dari berbagai kalangan terutama anak muda dan keluarga terlihat memadati studio. Kehadiran tim film pun semakin menyulut antusiasme, menandai tingginya minat publik terhadap karya sci-fi buatan Indonesia.
Dalam sesi konferensi pers, sutradara Upie Guava bersama produser Dendi Reynaldo serta para pemeran seperti Messi Gusti dan Bimo Kusumo hadir langsung menyapa penonton. Turut meramaikan, Raffi Ahmad yang memberikan dukungan terhadap film tersebut.
Bagi Upie Guava, Pelangi di Mars bukan sekadar proyek film, melainkan pernyataan bahwa sineas Indonesia siap keluar dari zona nyaman.
“Selama ini sci-fi dianggap sulit dan mahal. Tapi kami ingin membuktikan bahwa Indonesia juga bisa. Ini tentang keberanian untuk bermimpi besar,” ujarnya.
Ia menekankan, film ini secara khusus menyasar anak-anak dan remaja yang selama ini dinilai masih kekurangan pilihan tontonan berkualitas di bioskop. Melalui cerita petualangan di luar angkasa, film ini diharapkan mampu memantik rasa ingin tahu sekaligus membangun imajinasi.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya menonton, tapi juga berpikir dan bermimpi. Dari situ lahir keinginan untuk menjadi ilmuwan, astronot, atau bahkan pemimpin masa depan,” tambahnya.
Dari sisi produksi, Pelangi di Mars membawa pendekatan yang terbilang baru di industri film nasional. Seluruh proses pengambilan gambar memanfaatkan teknologi Extended Reality (XR), yang memungkinkan penciptaan latar dunia luar angkasa secara virtual namun tetap realistis.
Teknologi ini menjadi salah satu kekuatan utama film, sekaligus menandai langkah maju industri perfilman Indonesia dalam mengadopsi standar produksi global. Meski proses syuting berlangsung sekitar dua hingga tiga minggu di Jakarta, film ini telah melalui pengembangan panjang hingga lima tahun.
Produser Dendi Reynaldo menyebut, waktu yang panjang tersebut digunakan untuk mematangkan konsep visual dan cerita agar mampu menghadirkan pengalaman menonton yang berbeda.
“Film ini kami rancang bukan hanya untuk hiburan, tapi juga untuk membuka ruang imajinasi anak-anak. Kami ingin mereka pulang dari bioskop dengan mimpi yang lebih besar,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Raffi Ahmad yang mengapresiasi dedikasi tim produksi.
“Ini bukan karya instan. Prosesnya panjang dan penuh totalitas. Kita patut bangga karena Indonesia punya film seperti ini,” katanya.
Sementara itu, Messi Gusti mengaku menghadapi tantangan tersendiri selama syuting, mulai dari penggunaan teknologi XR hingga mengenakan kostum astronot yang cukup berat. Namun, pengalaman tersebut justru menjadi bagian penting dalam membangun karakter di film.
Antusiasme penonton di Palu menjadi sinyal positif bahwa film dengan konsep berbeda seperti ini mulai mendapat tempat di hati masyarakat. Tim produksi pun berharap, Pelangi di Mars tidak hanya sukses secara komersial, tetapi juga menjadi pemicu lahirnya lebih banyak karya kreatif di Indonesia.
Mengangkat kisah petualangan anak Indonesia di Planet Mars dengan misi menyelamatkan Bumi, film ini membawa pesan sederhana namun kuat, mimpi besar anak bangsa bukan sesuatu yang mustahil melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan sejak dini. Ngl





