Narasita.com- PALU, — Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menghadiri peringatan Haul ke-58 Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri di Kompleks Alkhairaat, Kota Palu, Rabu (1/4/2026). Ribuan jamaah dari berbagai daerah memadati lokasi dan mengikuti rangkaian acara dengan khidmat.

Dalam kegiatan yang mengusung tema “Meneguhkan Spirit Keteladanan Guru Tua dalam Bingkai Ilmu dan Akhlak”, Anwar Hafid mendampingi Ketua Utama Alkhairaat Alwi bin Saggaf bin Muhammad Al-Jufri.

Anwar Hafid mengatakan, kehadiran masyarakat dalam haul bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan wujud kecintaan mendalam kepada Guru Tua.

“Kalau bukan karena cinta kepada Guru Tua, tidak mungkin kita ada di sini. Ini adalah cinta yang tidak terbatas,” ujar Anwar.

Ia menegaskan, kecintaan tersebut harus diwujudkan melalui tindakan nyata, terutama dengan melanjutkan perjuangan Guru Tua di bidang pendidikan.

Menurut Anwar, Guru Tua telah merancang arah kemajuan peradaban melalui pendidikan jauh sebelum konsep Indonesia Emas 2045 digaungkan.

“Warisan terbesar beliau adalah pendidikan. Tidak ada jalan lain untuk mengubah nasib selain pendidikan,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Anwar juga mendorong penerapan kebijakan wajib belajar 13 tahun dengan memasukkan Madrasah Diniyah Awaliyah ke dalam sistem pendidikan formal.

Ia menyebut, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah tengah menyiapkan regulasi untuk mendukung kebijakan tersebut.

“Kalau wajib belajar 13 tahun, amanah Guru Tua belum masuk di dalamnya. Karena itu kita harus perjuangkan,” ujarnya.

Anwar turut menyoroti kondisi guru Madrasah Diniyah Awaliyah yang masih menghadapi keterbatasan kesejahteraan. Ia menilai, banyak guru tetap mengabdi meski menerima honor minim.

Sementara itu, Alwi bin Saggaf dalam tausiyahnya menekankan besarnya pengorbanan Guru Tua dalam berdakwah dan membangun pendidikan umat.

“Beliau menghabiskan seluruh hidupnya untuk dakwah di jalan Allah. Apa yang beliau capai, beliau wakafkan untuk umat,” kata Alwi.

Ia juga mengisahkan perjuangan Guru Tua menyebarkan dakwah hingga ke Maluku Utara dan Kalimantan dalam kondisi sarana transportasi terbatas.

Menurutnya, perjalanan tersebut penuh tantangan, baik melalui jalur laut maupun darat dengan akses yang belum memadai.

Selain isu pendidikan, Anwar Hafid juga menyinggung rencana penataan kawasan haul agar lebih representatif dan nyaman bagi jamaah.

Ia mengaku telah berdiskusi dengan pihak Universitas Tadulako terkait desain kawasan tersebut.

“Kita ingin tempat ini lebih sejuk dan nyaman. Ini akan kita wujudkan bersama,” ujarnya.

Menutup sambutannya, Anwar kembali mengajak masyarakat untuk bersatu melanjutkan perjuangan Guru Tua, khususnya dalam memperkuat pendidikan berbasis akhlak.

Haul ke-58 Guru Tua turut dihadiri sejumlah tokoh nasional, di antaranya Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Ketua KPU RI Mochammad Afifuddin, serta Ketua Bawaslu RI Rahmat Bagja.

Sejumlah tokoh nasional dan anggota DPR RI juga hadir, seperti Abu Bakar Alhabsyi, Muhidin Mohamad Said, Longki Djanggola, serta tokoh nasional Salim Segaf Al-Jufri dan Fadel Muhammad.

Dari unsur daerah, hadir Ketua DPRD Sulawesi Tengah Arus Abdul Karim, Pangdam XIII/Merdeka Jonathan S. Sianipar, Kapolda Sulawesi Tengah Endi Sutendi, serta sejumlah pejabat Forkopimda lainnya.rls