Narasita.com- PALU, — Mantan Direktur RSUD Undata Palu, drg. Herry Mulyadi, menyampaikan permintaan maaf setelah diduga melontarkan kata tidak pantas kepada seorang jurnalis saat dimintai konfirmasi terkait pembagian jasa pelayanan tenaga kesehatan.

Peristiwa itu terjadi usai pelantikan Direktur RSUD Undata yang baru, dr. Jumriani, di Aula RSUD Undata Palu, Senin (4/5/2026). Acara tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat, termasuk drg. Herry Mulyadi yang kini menjabat Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) Provinsi Sulawesi Tengah.

Jurnalis Global Sulteng, Rian Afdal, mengatakan awalnya ia datang untuk meliput pelantikan sekaligus meminta wawancara dengan drg. Herry.

“Saya bilang mau wawancara, tapi beliau tanya wawancara apa. Saat itu saya masih harus wawancara dengan Wakil Gubernur, jadi saya dahulukan,” kata Rian, Selasa (5/5/2026).

Setelah mewawancarai Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Reny Lamadjido, Rian kembali menemui drg. Herry saat rombongan bergerak menuju area parkir.

Dalam kesempatan itu, Rian mengaku ingin mengonfirmasi soal pedoman teknis pembagian jasa pelayanan tenaga kesehatan yang diterbitkan saat drg. Herry masih menjabat Direktur RSUD Undata.

Menurut Rian, awalnya percakapan berlangsung normal. Namun situasi berubah ketika ia mencoba menggali lebih jauh terkait persoalan tersebut.

“Dia bilang, ‘cari yang berkualitas, jangan itu kau tanya, bodoh,’” ujar Rian menirukan ucapan yang diterimanya.

Rian mengaku memilih menahan diri meski merasa tersinggung. Ia mengatakan masih ada sejumlah pertanyaan yang ingin dikonfirmasi, termasuk terkait keluhan tenaga kesehatan mengenai pembagian jasa pelayanan yang dinilai tidak sebanding dengan beban kerja.

Selain itu, ia juga ingin meminta klarifikasi mengenai informasi soal tim perumus pembagian jasa pelayanan yang disebut melibatkan orang-orang dekat direktur saat itu.

“Masih banyak yang ingin saya tanyakan, tapi karena situasinya seperti itu, saya memilih tidak melanjutkan,” ujarnya.

Rian menegaskan upaya konfirmasi itu dilakukan setelah beberapa kali mencoba mengatur jadwal wawancara dengan drg. Herry.

Ia menyebut pada 28 April 2026 sempat mendatangi kantor drg. Herry dan mengirim pesan permohonan wawancara, tetapi dijawab masih rapat. Sehari kemudian, ia kembali menghubungi dan mendapat jawaban bahwa yang bersangkutan sedang berada di DPRD.

“Karena sulit ditemui, saya manfaatkan momen pelantikan itu untuk konfirmasi langsung,” kata dia.

Sementara itu, drg. Herry Mulyadi membantah memiliki niat menghina atau merendahkan jurnalis tersebut. Ia mengaku kata yang terlontar merupakan spontanitas dalam percakapan sehari-hari dan bukan ditujukan secara personal.

“Demi Allah saya sama sekali tidak bermaksud mengatakan bodoh dalam konteks tidak pintar atau menganggap rendah. Hanya cara bicara biasa, kata tersambung,” kata drg. Herry saat dikonfirmasi.

Ia juga menyampaikan permintaan maaf atas ucapan tersebut.

“Sekali lagi saya mohon maaf atas kehilafan dalam bertutur. Insya Allah cara ngobrol bahasa yang kadang nyeletuk seperti itu tidak terulang,” ujarnya.