BANDAR LAMPUNG, NARASITA – Sebaran abu vulkanik Anak Krakatau kembali menebal di wilayah Bandar Lampung pada Rabu, 09 September 2026. Kondisi ini membuat aktivitas warga terhambat dan Pemerintah Provinsi Lampung memutuskan untuk memperpanjang Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) hingga 10 September 2026.
Abu vulkanik yang berasal dari erupsi Gunung Anak Krakatau ini dilaporkan menempel di teras, halaman rumah, hingga permukaan jalan, menunjukkan ketebalan yang signifikan dibanding hari sebelumnya. Warga pun diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan alat pelindung diri seperti masker serta pelindung mata.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa sebaran abu vulkanik Anak Krakatau mencapai ketinggian 7.000 kaki atau sekitar 2,1 kilometer. Arah sebaran abu terpantau menuju barat laut, yang meliputi area Teluk Lampung, menambah kekhawatiran akan dampak yang lebih luas.
Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau sendiri masih sangat tinggi. Tercatat, gunung ini telah mengalami erupsi berulang sebanyak tujuh kali dalam kurun waktu dua hari, yaitu pada 08-09 September 2026. Status gunung masih berada pada Level III (Siaga) sejak Juli 2026, dengan lebih dari 240 erupsi hingga awal September.
Dampak kesehatan menjadi perhatian utama. Abu vulkanik Anak Krakatau dapat menyebabkan iritasi pada mata dan kulit, serta gangguan pernapasan seperti batuk. Risiko ini lebih tinggi bagi individu yang memiliki riwayat asma atau penyakit paru-paru kronis.
Selain itu, sebaran abu juga berpotensi mengganggu keselamatan transportasi. Abu vulkanik dapat mengurangi jarak pandang dan membuat permukaan jalan menjadi licin, sehingga berbahaya bagi pengendara. Keputusan memperpanjang PJJ diambil untuk melindungi siswa dari paparan abu yang bisa membahayakan kesehatan mereka.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat Bandar Lampung. Banyak warga yang memilih untuk tidak beraktivitas di luar rumah, berharap kondisi dapat segera membaik.
“Hari ini debunya ternyata tebal lagi. Sebelumnya padahal sudah menipis,” kata Dendi Handoko, seorang warga Sumberrejo.
Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada, serta selalu mengikuti informasi resmi yang dikeluarkan oleh BMKG dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).





